************************************************

Skripsi Administrasi Bisnis
Skripsi Administrasi Negara  
Skripsi Administrasi Niaga
Skripsi Administrasi Pertanahan
Skripsi Administrasi Publik 
Skripsi Agama Islam
Skripsi Akuntansi
Skripsi Aqidah Filsafat
Skripsi Bahasa Inggris
 Skripsi Bahasa Sastra Inggris
 Skripsi Biologi
Skripsi Desain dan Komunikasi Visual
Skripsi Ekonomi  
Skripsi Ekonomi Islam
  Skripsi Ekonomi Manajemen
 Skripsi Ekonomi Pembangunan
Skripsi Elektro
Skripsi Farmasi  
Skripsi Fisika
Skripsi Geo Teknik
Skripsi Pendidikan Agama Islam  
Skripsi Pendidikan Bahasa Arab
Skripsi Pendidikan Bahasa Indonesia
Skripsi Pendidikan Bahasa Inggris
Skripsi Pendidikan Biologi  
Skripsi Pendidikan Ekonomi
Skripsi Pendidikan Elektro 
Skripsi Pendidikan Kimia
 Skripsi Pendidikan Matematika
Skripsi Pendidikan Olahraga
Skripsi Perbankan
Skripsi Perbankan Syariah
Skripsi Perkapalan
Skripsi Pertambangan
Skripsi PPKN
Skripsi PGKSD PGSD PGMI
Skripsi Teknik Mesin 
Skripsi Teknik Metalurgi
Skripsi Teknik Pertanian
Skripsi Hukum
Skripsi Hukum Perdata
Skripsi Hukum Pidana
Skripsi Hukum Tata Negara
Skripsi Ilmu Hukum
Skripsi Ilmu Keperawatan
Skripsi Ilmu Komunikasi
Skripsi Ilmu Komputer
 Skripsi Informatika
Skripsi Kedokteran 
Skripsi Kehutanan
 Skripsi Keperawatan
Skripsi Kesehatan Masyarakat
  Skripsi Kimia
Skripsi Komputer
Skripsi Komunikasi 
Skripsi Manajemen
Skripsi Manajemen Ekonomi
Skripsi Manajemen Keuangan
Skripsi Manajemen Pemasaran
Skripsi Manajemen SDM
Skripsi Matematika
 Skripsi Olahraga  
Skripsi Psikologi
 Skripsi Sains Kebumian 
Skripsi Sejarah
 Skripsi Sistem Informasi
Skripsi Statistika
Skripsi Sosiologi 
Skripsi Syariah 
Skripsi Tafsir Hadist
  Skripsi Tarbiyah
 Skripsi Tata Negara
Skripsi Tata Boga Tata Busana  
Skripsi Teknik Elektro
Skripsi Teknik Industri
Skripsi Teknik Informatika
Skripsi Teknik Komputer 
Skripsi Teknik Sipil
dan masih banyak lagi yang lainnya....

semua kami rangkum dalam 3 kepingan dvd berkualitas dan jumlah total sementara skripsinya mencapai lebih dari 4.900 buah skripsi (^_^)

========================================================

*koleksi sementara?
Untuk koleksi sementara kami ada sekitar 4.900 lebih. Lho kok sementara? karena begitu kami memperoleh skripsi yang baru dan fresh maka kami akan menambahkannya kedalam koleksi kami sehingga"koleksi skripsi kami akan mengalami penambahan jumlah tanpa pemberitahuan sebelumnya".

==========================================================

BONUS SOFTWARE

**BONUS RAHASIA**

 Ebook rahasia

 kok rahasia? ya karena ebook ini berisi ebook berbahasa indonesia yang tidak beredar luas di internet. Nilai nominal dari ebook ini lebih dari 1juta lho. Tapi di paket koleksi skripsimu akan kami berikan secara gratis..

>> So kami harap jangan disebar luaskan isinya ya <<



========================================================
Pesan sekarang juga! 
 HARGA SEMUANYA hanya 

SUDAH TERMASUK ONGKIR

========================================================






Ayo order sekarang juga sebelum harganya kami naikkan karena skripsinya akan terus bertambah jumlahnya, jadi wajar dong kalo kami menaikkan harganya.

*******************************************************
>>>>> CARA PEMBELIAN <<<<<
*******************************************************

Hanya dengan tiga langkah mudah di bawah ini

Pembelian cepat melalui sms :

1. Sms ke nomor  
0856-5816-8316 / 0823-6613-0680
bbm : 518EC16D


Contoh sms :

"pesan skripsi segala jurusan, Dessy Jl. kebon duren No.18 Lampung + kodepos"


Saya akan membalas sms serta mencatat nama dan alamat anda, infokan nama dan alamat selengkap-lengkapnya


2. Lakukanlah pembayaran ke salah satu rekening saya:
Bank Mandiri
900-00-0868734-6

An DEFRI WICAKSONO S.SI




Bank BRI
2224-01-000296-53-6

An DEFRI WICAKSONO S.SI


3. Setelah transfer, segera infokan kembali dengan sms

Contoh sms :

"Sudah transfer An.Dessy, 120 rb, cepetan dikirim ya skripsinya"


Setelah transfer maka skripsi akan saya kirimkan ke alamat sobat, jadi tinggal nunggu kurir kiriman datang ke rumah saja. Saya menggunakan jasa pengiriman TIKI, POS, dan JNE. No resi juga akan saya kirimkan supaya sobat bisa menunggu dengan tenang dan damai, hehe..


 >>> GARANSI !! <<<
DVD koleksi skripsi ini kami garansi dari kerusakan fisik maupun error. ya walau pun sudah diburn dengan kualitas yang terbaik namun bisa saja terjadi eror/data tidak terbaca atau bahkan kerusakan dalam proses pengiriman. So.. tidak usah khawatir akan data error/rusak karena kami akan kirim dvd yang baru dan tetap gratis ongkos kirim.

### PENUTUP ###
"kami pedagang muslim yang jujur dan mencari rezeki secara halal. Siapapun yang telah transfer maka demi Allah dvd koleksi skripsi segala jurusan ini akan kami kirimkan dan garansi juga akan kami jamin kepastiannya ^_^ "


 * sebahagian bukti pengiriman yang telah kami lakukan

 

 Maaf, kami tidak mempublikasikan testimoni dari pelanggan kami karena kami merahasiakan identitas mereka. Tapi kami yakinkan bahwa siapapun yang telah transfer maka DEMI ALLAH dvd koleksi skripsimu akan kami kirimkan.


SEMOGA SKRIPSI ANDA SUKSES DENGAN NILAI MAKSIMAL
Aamiin..

PERHATIAN !!
1. KENAPA TIDAK ADA TESTIMONI PEMBELI ??
Saya menjaga kerahasiaan privasi dari customer saya
2. APAKAH DVD SKRIPSINYA BENERAN DIKIRIM SETELAH TRASNFER ??
Demi Allah dvd skripsi akan saya kirim setelah sobat transfer dan resi pengiriman akan saya sms kan ke no sobat
3. GARANSI DVD SKRIPSINYA BENERAN ??
Beneran DVD skripsinya saya garansi, saya janji!
KENAPA HAL INI DIBUAT??
Saya mencari rezeki secara halal dan berusaha meyakinkan pembeli bahwa saya pedagang yang jujur ditengah persaingan dunia online yang sedikit kurang sehat
KUNJUNGI BLOG UTAMA KAMI WWW.KOLEKSI-SKRIPSIMU.BLOGSPOT.COM

Sabtu, 09 Mei 2015

CONTOH SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

 CONTOH SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
            Anak dalam perspektif Islam merupakan rahmat dari Allah yang diberikan kepada orang tua, dan merupakan titipan Allah kepada orang tuanya, hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam surat Asy-Syura ayat 49:

لله ملك السموا ت والأرض يخلق ما يشاء يهب لمن يشاءاناثا ويهب لمن يشاء الذكور(الشورى:49)
Artinya: “ Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang  Dia kehendaki dan memberikan anak-anak laki-laki kepada siapa yang  Dia kehendaki".[1]

Sesungguhnya Allah mempunyai wewenang menciptakan kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang dia kehendaki walau makhluk enggan untuk menerimanya, terkadang manusia mendambakan anak laki-laki tetapi kehendak Allah yang maha mutlak kekuasaan dan pengaturannya yang berlaku, Dia memberi anak perempuan kepada siapa yang dia kehendaki walau yang bersangkutan mendambakan anak laki-laki begitu juga sebaliknya.
Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa Allah berwenang penuh menciptakan dan mengatur makhluknya dan ini merupakan penjelasan secara umum, yang sesuai dengan konteks dimana dilarang memperdebatkan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan khusus Allah.      
Dan firman Allah dalam surat Ali Imron ayat 38 :

هنالك دعا زكريا ربه قال رب هب لي من لدنك ذرية طيبة
انك سميع الدعاء (ال عمران:38)
Artinya: ” Di sanalah  Zakariya mendo’a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a”.[2]

            Ayat di atas menjelaskan bahwa mihrob tempat Maryam berada dan saat itulah ketika ia mendengar jawaban sumber rizki Maryam, harapan Zakariya a.s untuk memperoleh anak keturunan muncul kembali dari lubuk hatinya yan terdalam selama ini harapan itu ia pendam dalam-dalam karena sadar bahwa ia dan isterinya telah lanjut usia tapi melihat apa yang terjadi pada Maryam serta mendengar dan menyadari ucapannya  bahwa Allah memberi rizki kepada siapa yang dia kehendaki tanpa yang bersangkutan mendengarnya disana dan ketika itulah berdo'a kepada tuhannya seraya berkata Tuhanku pemelihara dan pembimbingku anugerahilah aku dari sisimu yang aku tidak tahu bagaimana caranya anak berkualitas, sesunmgguhnya engkau maha  mendengar dan maha pengkabul 
            Dengan demikian dapat dipahami bahwa anak merupakan amanat dari Allah kepada orang tua, yang nanti di hari kiamat akan dimintai pertanggug jawaban tentang pemeliharaan, pengembangan dan pemanfaatannya. Dan diantara hal yang ditanyakan adalah pendidikan agama pada anak.
            Perlu kita perhatikan bahwa setiap orang tua muslim mendambakan anak yang sholeh, dengan iman yang teguh, taat beribadah, dan akhlak terpuji. Tetapi untuk mewujudkan hal tersebut bukan lah semudah kita bayangkan seperti membalikkan telapak tangan, melainkan harus melalui proses yang cukup panjang dan membutuhkan perjuangan. Oleh karena itu, meskipun dalam keadaan kepayahan, kesusahan, sebagai orang tua dalam mengasuh anaknya, tidak akan dapat mengikis kasih sayangnya kepada mereka. Harapan untuk memiliki anak yang sholeh, akan tetap tertanam dalam hati kedua orang tua.
            Zakiah Darajat mengatakan: “ Agama yang ditanamkan sejak kecil kepada anak-anak sehingga merupakan bagian dari unsure-unsur kepribadiannya, akan cepat bertindak menjadi pengandali dalam menghadapi segala keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan yang timbul. Karena keyakinan terhadap agama yang menjadi bagian dari kepribadian itu, akan mengatur sikap dan tingkah laku seseorang secara otomatis dari dalam dirinya, jika ia menjadi seorang ibu atau bapak di rumah tangga, ia merasa terdorong untuk membesarkan anak-anaknya dengan pendidikan  dan asuhan yang diridhoi oleh Allah. Ia tidak akan membiarkan anak-anaknya melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum dan susila”.[3]
            Berbicara tentang  pendidikan agama anak, keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama dalam membentuk kepribadian keagamaan anak, bahkan sampai kapanpun fungsinya tidak akan  tergeser oleh lembaga lainnya. Itulah sebabnya, kewajiban orang tua terhadap anaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan lahiriah saja seperti makan, minum dan lainnya, tetapi lebih dari itu, orang tua wajib memenuhi kebuttuhan rohaniahnya, yang berupa pendidikan agama. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6:

يايها الذين امنوا قوا انفسكم واهليكم نارا وقودها الناس والحجارة عليها ملئكة غلاظ شداد لا يعصون الله ما امرهم ويفعلون ما يؤمرون(التحريم:6)
Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, peliharlah dirimu dan keluargmu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.[4]

            Menjaga diri dan keluar dari siksaan neraka adalah dengan cara memberikan  pengajaran dan pendidikan agama, serta menumbuhkan dan membiasakan mereka berbuat kebaikan.
            Akan tetapi akhir-akhir ini, kita banyak menjumpai di tengah masyarakat, dimana keluarga muslim khususnya kurang memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya. Sehingga terjadi penyimpangan prilaku anak  dari norma-norma agama yang telah ditetapkan. Padahal Rosulullah telah menegaskan dalam hadisnya yang berbunyi:

ما من مولود الايولد على الفطرة فابواه يهودانه او ينصرانه
 او يمجسا نه (رواه مسلم)
Artinya: “ Tiadalah seorang yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya, maka akibat kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nashrani, atau Majusi”.[5]

            Jadi baik dan buruk tumbuhnya anak-anak merupakan tanggung jawab orang tua. Orang tua harus betul-betul memperhatikan pendidikan anak-anaknya terutama pendidikan agama. Sehingga kelak diakherat dapat mempertanggung jawabkan amanat yang diberikan Allah kepadanya.
            Maraknya dekadensi moral, baik yang dilakukan oleh anak-anak, remaja maupun orang tua sebagaimana yang kita saksikan sangat erat kaitannya dengan pendidikan agama disamping itu juga karena pengaruh globalisasi, namun apabila setiap individu memahami agama dengan baik, maka ia akan mampu membentengi dirinya dari berbagai pengaruh yang negatif dan tetap konsis mengamalkan ajaran agama tersebt. Untuk itu orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga yang sekaligus merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama maka mereka memiliki tanggung jawab penuh dalam pelaksanaan pendidikan agama islam di lingkungan keluarga demi terbentuknya pribadi anak sehingga menjadi sosok muslim yang ideal. Namun demikianlah pendidikan anak untuk menjadi muslim yang baik dalam kehidupan keluarga perlu menggunakan berbagai macam cara atau strategi tersendiri sehingga berhasil.
            Atas dasar pemikiran tersebut, penulis terdorong untuk mengangkat permasalahan mengenai "Strategi Pelaksanaan Pendidikan Agama Pada Anak Dalam Keluarga" studi kasus keluarga Bapak Karjono di dukuh Sentanan desa Krembangan Gudo Jombang.

B.     Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas, dan mengacu pada judul yang ada, penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1.      Faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak  dalam keluarga?.
2.      Bagaimanakah strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga ?

C.    Tujuan Penelitian
            Secara umum penelitian ini berusaha mengungkap strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga Bapak Karjono di dukuh Sentanan desa Krembangan Gudo Jombanng.
            Sedangkan secara rincinya sebagai berikut:
a.       Untuk mendiskripsikan strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga Bapak Karjono di dukuh Sentanan Desa Krembangan Gudo Jombang.
b.      Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga di dukuh Sentanan Desa Krembangan Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang.
D. Penegasan Judul
            Agar dalam membaca skripsi ini tidak mengalami kesulitan maka penulis perlu memberikan penegasan judul, sehingga nantinya pembaca memahami apa maksud dari isi skripsi ini.
1.      Strategi adalah pertimbanngan dan penetapan langkah-langkah yang ditempuh sejak awal sampai akhir 
2.      Pelaksanaan adalah dimulainya suatu kegiatan
3.      Pendidikan agama adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama menururt ukuran-ukuran islam.
4.      Anak adalah buah hasil dari hubungan antara suami dan isteri
5.      Keluarga adalah suatu perkumpulan kecil, yang mana didalamnya terdapat hubungan yang erat antara Bapak, Ibu dan anak.
            Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga adalah cara orang tua dalam membimbing anak-anaknya dalam belajar untuk mencapai terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukuran-ukuran islam. Sehingga nantinya anak akan mampu menjalankan perintah dan menjahui larangan agama yang sudah digariskan dan menjadi anak yang sholeh yang berbakti kepada kedua orang tua mereka.
E.     Manfaat Penelitian
            Setelah penulis menyelesaikan penelitian tentang strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga, diharapkan nantinya akan bermanfaat :
1.      Bagi para orang tua sebagai pendidik pertama anak-anaknya, sehingga akan lebih bertanggung jawab dan memperhatikan betul terhadap pendidikan agama anak-anaknya.
2.      Bagi Penulis :
a.       Sebagai bahan informasi dan latihan dalam mengembangkan dinamika pemikiran tentang pendidikan agama.
b.      Sebagai acuan awal dalam kehidupan selanjutnya sebelum terjun dalam kehidupan keluarga dan masyarakat yang nyata..
3.      Sebagai sumbangan pemikiran dan bahan masukan dalam rangka meningkatkan strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga, sekaligus menjadi bahan studi lanjut bagi yang memerlukan.

F.     Metode Penelitian
            Metode penelitian merupakan sebuah cara yang digunakan dalam penelitian. Bagaimana  cara mencari data, dan setelah data didapat bagaimana cara mengolah data tersebut sehingga menjadi bermakna dan dapat dipahami setiap pembaca. 
a.      Jenis Penelitian
Menurut jenisnya penelitian ini adalah penelitian studi kasus (Case Study), yaitu suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu. Ditinjau dari wilayahnya maka penelitian kasus hanya meliputi daerah atau subyek yang sempit, yang ditinjau dari sifat penelitian. Penelitian kasus lebih mendalam.[6]
Menurut Nasution, studi kasus adalah bentuk penelitian yang dapat dilakukan terhadap seorang individu, sekelompok individu, golongan manusia (guru, suku), lingkungan hidup manusia (desa), atau lembaga sosial.[7]
Oleh karena itu hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu gambaran yang utuh dan terorganisasi dengan baik tentang komponen-komponen tertentu, sehingga dapat memberikan kevaliditan hasil penelitian.
b. Obyek Penelitian
            Dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai obyek penelitian secara langsung adalah keluarga Bapak Karjono yang ada di dukuh Sentanan desa krembangna kecamatan Gudo kabupaten jombang. Adapun alasan penulis menjadikan keluarga Bapak Karjono sebagai obyek penelitian karena berdasarkan pemantauan penulis keluarga ini bisa dikatakan berhasil dalam mendidik anak-anaknya baik itu dalam pendidikan umum atau pendidikan agama, masing-masing kedua orang tuanya memiliki kesibukan diluar rumah yaitu bapaknya bekerja sebagai guru, dan kalau sore hari biasanya ikut membantu mengajar di TPQ Nurul Iman. Sedangkan ibunya dibidang wiraswasta yaitu menunggu toko disamping sebagai ibu rumah tangga. Meskipun mereka mempunya kesibukan akan tetapi komunikasi diantara keduanya berjalan dengan baik, lancar dan tidak lengah, mereka tetap mengontrol pendidikan anak-anaknya.
            Inilah sedikit gambaran tentang keluarga Bapak Karjono, untuk lebih jelasnya akan penulis paparkan pada bab III sebagai deskripsi hasil penelitian di lapangan.
c. Informan dan Responden
            Informan adalah orang yang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi situasi dan kondisi latar penelitian.[8]
                Responden merupakan orang yang memberi jawaban dan sangat diperlukan dalam penelitian. Dengan kata lain responden adalah orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian baik pertanyaan lesan atau tulisan.[9]
         Adapun yang dijadikan responden disisni adalah seluruh anggota keluarga bapak karjono, termasuk saudara-saudaranya yang tidak tinggal serumah dengan keluarga bapak karjono. Sedangkan yang dijadikan informan disini adalah tetangga terdekat yang dianggap perlu

d. Metode Pengumpulan Data
   Berdasarkan jenis dan sumber data yang diperoleh, seperti penulis kemukakan diatas, maka metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Metode Observasi
Yang dimaksud metode observasi adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan melalui pengamatan secara sistematis terhadap obyek yang diteliti.[10]
         .
   Adapun yang diobservasi adalah tentang strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga yang meliputi pelaksanaan pendidikan akidah, ibadah dan akhlak oleh orang tua. Metode yang digunakan setiap harinya yaitu metode keteladanan, metode pembiasaan, metode nasehat dan metode perhatian/ pengawasan, dan kondisi lingkungan keluarga Bapak Karjono
2.      Metode Interview (wawancara)
Interview yang sering juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara.
Interview digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu          
         Metode ini digunakan untuk mengetahui secara langsung pelaksanaan pendidikan agama yang dilakukan oleh ortang tua dalam kaitannya untuk memperoleh kebenaran dari hasil wawancara yang telah dilakukan.
3.            Metode Dokumentasi
         Metode dokumenter adalah pengumpulan data dari data-data yang telah didokumentasikan dalam berbagai bentuk. Suharsimi Arikunto mengatakan:
“Bahwa metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya”.[11]

         Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang struktur pemerintahan desa, jumlah penduduk, tingkat pendidikan, pekerjaan (mata pencaharian), jumlah penduduk berdasar agama, jumlah tempat ibadah, jumlah lembaga pendidikan serta data yang berhubungan dengan administrasi lainnya.
e.Teknik Analisis Data
Analisa adalah mngelompokkan, membuat suatu urutan, memanipulasi serta menyikatkan data sehingga mudah untuk di baca. [12]
Pada umumnya penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesis sehingga dalam penelitian tidak perlu merumuskan hipotesisnya.[13]
Dalam mengadakan analisa data, perlu diingat bahwa data yang diperoleh hanya menambah keterangan terhadap masalah yang ingin dipecahkan. Data tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut, sehingga analisa yang diperoleh dapat berjenis-jenis. Informasi yang diperoleh dapat menjawab sebagaian atas semua masalah, dapat menjawab secara spesifik dan dapat bersifat sangat umum. 
   Agar data yang terkumpul mempunyai makna, maka diperlukan proses analisa data dengan cara tertentu. Moh. Nasir mengatakan:” Data mentah yang telah dikumpulkan oleh peneliti tidak akan ada gunanya jika tidak dianalisa. Analisa data merupakan bagian yang amat penting dalam metode ilmiah, karena dengan analisalah, data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian”.Data mentah yang telah dikumpulkan perlu dipecah-pecah dalam kelompok, diadakan katagorisasi sehingga data tersebut mempunyai makna.[14]  Sedangkan beberapa ciri dalam membuat kategori adalah :
a.       Kategori yang dibuat harus sesuai dengan tujuan penelitian serta masalah
b.      Kategori harus lengkap
c.       Kategori harus bebas dan terpisah
d.      Tiap kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi
e.       Tiap kategori harus dalam satu level.[15]

G.    Sistematika Pembahasan
Sistematika adalah tata urutan yang beraturan dan berkesesuaian. Sistematika ini memuat kerangka pemikiran yang akan digunakan dalam pelaporan hasil penelitian yang dilakukan. Adapun bentuk sistematis dari laporan tersebut adalah sebagai berikut:
BAB I    :  Pada bab ini merupakan penjelasan secara umum tentang, Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Batasan Masalah, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, Sistematika Pembahasan.
BAB II  : Pada bab ini berisis penjelasan secara teoritis tentang hal-hal yang berhubungan dengan strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga

BAB III :  Pada bab ini akan dikemukakan hasil penelitian yang akan diungkapkan secara deskriptif tentang latar belakang obyek, strategi pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga
BAB IV : Sebagai bab terakhir, bab ini akan membahas tentang kesimpulan dan saran. Kesimpulan  dimaksud adalah kesimpulan dari hasil penelitian yang didapat dari lapangan, sedang saran ditujukan kepada pihak yang terlibat dalam penelitian agar lebih bertanggung jawab terhadap pendidikan agama anak.
Contoh Skripsi Pendidikan Agama Islam Selengkapnya Silahkan Kunjungi di sini
[1] Depag, Al-Qur'an dan Terjemah, Asy-Syifa', Semarang, 2000, hal, 390
[2] Ibid, hal, 42
[3] Zakiah Darajat, Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Mental, Bulan Bintang, Jakarta, 1975, hal 92
[4]Depag R I, Op. cit, hal, 6
[5] Hussein Bahreij, Himpunan hadits Shahih Muslim, Al-Ikhlas, Surabaya, 1987, hal, 44
[6] Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bina Aksara, Jakarta 1998. Hal. 131
[7] S Nasution. Metode Reseach. Jemmars, Bandung. 1982. Hal 36
[8]. Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif. PT Remaja rosda karya,Bandung. 2000. hal  90
[9]. Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bina Aksara, Jakarta 1993. Hal. 102
[10] Sutrisno Hadi, Op, cit, hal, 159
[11] Suharsismi Arikunto, Op, cit, hal. 236
[12] Moh Nasir, Metode Penelitian, Gahlia Indonesia, Jakarta, 1999, hal, 419
[13] Suharsimi Arikunto, Op, cit, hal. 206
[14]Moh Nasir, Metode Penelitian, Gahlia Indonesia, Jakarta, 1999, hal. 405
[15] Moh Nasir, ibid hal 409
       
Print Friendly and PDF
You might also like:

    Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
    CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN SDM - PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN MANAJER TERHADAP KEPUASAN PEKERJA DI CV. JABAR KARYA UTAMA UNTUK PEKERJAAN OPTIMALISASI MESJID DI DINAS TATA RUANG DAN PERMUKIMAN PROPINSI JAWA BARAT
    CONTOH SKRIPSI AKUNTANSI : PEMERIKSAAN PENGENDALIAN INTERN PERSEDIAAN PADA PT. VEDEM PUTRA SAKTI
    Contoh Skripsi Perhotelan
    CONTOH SKRIPSI TEKHNIK MESIN JUDUL : ANALISA PENGARUH WAKTU TAHAN TERHADAP BAJA KARBON RENDAH DENGAN METODE PACK CARBURIZING

Contoh Skripsi Perhotelan

 Contoh Skripsi Perhotelan

Kali ini saya ingin memposting contoh skripsi Perhotelan, Bagi anda yang membutuhkan contoh skripsi perhotelan semoga contoh ini bisa membantu.
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Penelitian
            Departemen Penjualan dan Pemasaran (Sales & Marketing Department) dalam suatu organisasi hotel memegang peranan penting untuk menunjang kelancaran bisnis hotel tesebut. Kegiatan marketing adalah pelaksanaan dari segala aktivitas perusahaan yang dilakukan untuk menciptakan informasi tentang perusahaan dan berusaha untuk meningkatkan serta menyebarkan hasil produksinya sesuai dengan permintaan masyarakat pada saat ini (jangka pendek), maupun yang akan datang (jangka panjang).
            Seorang Sales Manager bersama dengan perangkat tugas di bagiannya haruslah memahami cara bagaimana mengatur kegiatan-kegiatan pemasaran secara keseluruhan dengan konsep dan pola perencanaan dan juga koordinasi kegiatan-kegiatan penjualan dan aspek dari segi-segi lain di bidang pemasaran. Dalam menjalankan tugasnya tersebut seorang sales sudah pasti akan berhubungan dengan banyak orang yang bersentuhan langsung dengan produk yang ditawarkannya.
            Efektifitas dari seorang tenaga penjual secara langsung dapat mempengaruhi keuntungan perusahaan. Oleh  karena  itu diperlukan seorang sales  yang benar-benar memahami tugasnya yang harus bertemu dengan banyak orang dan mempengaruhi mereka sehingga mereka tertarik untuk menggunakan produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
            Dalam hubungannya dengan banyak orang inilah, seorang sales diharuskan untuk berkomunikasi dengan baik dan benar.  Berkomunikasi adalah syarat wajib yang dibutuhkan seorang sales dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Agar penyampaian maksud dan tujuan yang diinginkan dapat terlaksana dengan baik, seorang sales juga harus dapat menempatkan dirinya dan melihat dengan siapa dia berhubungan. Seorang sales juga harus dapat menjembatani permasalahan yang terjadi antara tamu dengan hotel, dalam hal ini seorang tamu yang mempunyai masalah dengan Front Office, Accounting, Housekeeping dan bagian yang lainnya.
            Seorang tamu pada umumnya akan terus berhubungan dengan sales selama ia menggunakan segala fasilitas yang terdapat di hotel. Karena orang pertama yang ditemui pada saat mengenal produk hotel  adalah sales hotel tersebut, oleh karena itu seorang sales yang baik harus bisa menjaga hubungan yang baik dengan tamu hotel maupun dengan rekan kerja di departemen lain yang berhubungan dengan tamu tersebut. Dalam menyusun Karya Tulis Akhir yang berjudul “Pentingnya Komunikasi Bagi Sales Person (Staf Bagian Pemasaran) Dalam Menjalankan Tugasnya Di Aston Hotel Sudirman”, penulis mencoba untuk menguraikan dan mengemukakan tentang apa yang dialami dalam pelaksanaan praktek kerja di Aston Hotel Sudirman pada Sales & Marketing Department.

B.   Identifikasi dan Perumusan Masalah

1.         Identifikasi Masalah
            Fungsi seorang sales dalam menjalankan tugasnya adalah untuk  menjual produk yang dihasilkan suatu hotel, oleh karena itu seseorang sales harus memiliki kemampuan untuk bisa berkomunikasi dengan baik kepada setiap orang yang berhubungan langsung dengan produk tersebut. Kemampuan untuk berkomunikasi ini sangat diperlukan dan harus disesuaikan dengan waktu, tempat dan karakter orang yang ditemui. Hal ini akan sangat terasa sekali apabila terjadi masalah yang menyebabkan seorang sales harus menghadapi lebih dari satu orang dengan beragam keinginan pula. Cara penyampaian yang baik mutlak diperlukan agar setiap orang tidak merasa dirugikan dan masalah dapat terselesaikan dengan baik.
            Berkomunikasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara tergantung kondisi dan situasi yang dihadapi pada saat itu. Yang terpenting adalah bagaimana agar maksud dan tujuan yang diharapkan dapat dimengerti oleh orang bersangkutan.

2.         Perumusan Masalah
            Masalah yang banyak dihadapi oleh seorang sales di Aston Hotel Jakarta biasanya berhubungan dengan tamu atau booker (orang yang berhubungan langsung dengan tamu) yang mempunyai masalah dengan Front Office, Housekeeping dan Accounting.
Beberapa diantaranya adalah :
-          Tamu tidak mendapatkan kamar seperti yang dijanjikan sales pada waktu pertama kali ia memesan dikarenakan tingkat hunian yang tinggi.
-          Pembayaran tamu oleh perusahaannya tidak tepat waktu dikarenakan sesuatu dan lain hal dalam perusahaannya dan bagian accounting yang tidak simpatik dalam menagih.
-          Permintaan perusahaan untuk mendapatkan fasilitas kredit yang tidak disetujui oleh bagian accounting.
-          Permintaan tamu untuk menambah atau mengurangi perabotan dan peralatan yang tersedia di dalam kamar.
-          Kurang baiknya hubungan yang terbina antara seorang sales dengan rekan kerja maupun dengan tamunya.   
            Adapun perumusan permasalahan yang timbul dari masalah-masalah di atas adalah “mengapa seorang sales person harus dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan baik”.

C.   Tujuan Penelitian

            Tujuan  yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah supaya dapat mengetahui mengapa seorang Sales Person harus mampu berkomunikasi dengan baik. Komunikasi yang baik di sini tidak hanya kemampuan dalam menyakinkan calon pelanggan akan produk yang ditawarkan, namun juga mampu menjalin kerjasama yang baik dengan staf pada bagian lain dalam perusahaan yang kelak berhubungan manakala pelanggan hendak menggunakan produk yang berhasil dijual dalam hal ini adalah kamar. Bagian yang kerap kali berhubungan dengan Sales Person adalah Front Office, House Keeping  dan Accounting.

D.  Metode Penelitian
            Untuk Menyusun Karya Tulis Akhir ini penulis mengelompokkan bagian-bagian mana yang harus didahulukan dan melakukan penelitian lebih mendalam. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

1.      Penelitian Lapangan.
Pada penelitian lapangan ini penulis terjun langsung yang berupa Praktek Kerja Lapangan yang dimulai tanggal 12 April – 12 Oktober 2004. Selain itu penulis juga melakukan wawancara dengan para sales person.

2.                  Penelitian Kepustakaan.
Pengumpulan data-data dengan jalan penelitian terhadap buku-buku yang berkaitan dengan masalah di atas.
            Diharapkan hasil kerja yang yang mendekati sasaran dapat menjadi manfaat di kemudian hari bagi penulis khususnya dan masyarakat umum.
E.     Sistematika Penulisan
            Penulis menyusun Karya Tulis Akhir ini berdasarkan sistematika sebagai berikut :

BAB I  : PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis menguraikan mengenai latar belakang, permasalahan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini diuraikan mengenai pengertian sales & marketing department, pengertian sales person, tugas-tugas seorang sales person dan pengertian komunikasi.

BAB III: GAMBARAN UMUM OBJEK  PENELITIAN
 Menguraikan mengenai sejarah singkat Aston Hotel Sudirman, fasilitas,
                dan struktur organisasi.

BAB IV: PEMBAHASAN MASALAH
                Dalam bab ini diuraikan mengenai pentingnya komunikasi bagi seorang sales person, aktifitas sales person pada sales & marketing department dan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab ini dituliskan kesimpulan-kesimpulan yang diambil serta   saran-saran yang diajukan karena dianggap perlu sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.

Untuk Contoh Skripsi Perhotelah di BAB selanjutnya silahkan Masuk ke Sini

Judul Terkait Skripsi Perhotelan lainya ada"
- SIRKULASI KERJA HOUSEKEEPING DI KARTIKA HOTEL PONTIANAK"
- Contoh Skripsi Akuntansi Judul Analisis Laporan Laba Rugi Departemen Kamar Pada Borneo International Hotel di Samarinda
- CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN - PERANAN PRAMUSAJI YANG PROFESIONAL GUNA MENINGKATKAN PENDAPATAN DI RESTORAN TERATAI HOTEL MONTANA DUA MALANG
       
Print Friendly and PDF
You might also like: Contoh Skripsi Perhotelan

    Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
    CONTOH SKRIPSI AKUNTANSI : PEMERIKSAAN PENGENDALIAN INTERN PERSEDIAAN PADA PT. VEDEM PUTRA SAKTI
    CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN SDM - PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN MANAJER TERHADAP KEPUASAN PEKERJA DI CV. JABAR KARYA UTAMA UNTUK PEKERJAAN OPTIMALISASI MESJID DI DINAS TATA RUANG DAN PERMUKIMAN PROPINSI JAWA BARAT
    CONTOH SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
    CONTOH SKRIPSI TEKHNIK MESIN JUDUL : ANALISA PENGARUH WAKTU TAHAN TERHADAP BAJA KARBON RENDAH DENGAN METODE PACK CARBURIZING

Contoh Skripsi Ekonomi Syariah : Analisis Pinjaman Konsumtif Riil pada Bank Syariah di Indonesia Periode 1998 – 2003

 Contoh Skripsi Ekonomi Syariah : Analisis Pinjaman Konsumtif Riil pada Bank Syariah di Indonesia Periode 1998 – 2003
Contih Skripsi Ekonomi Syariah : Analisis Pinjaman Konsumtif Riil pada Bank Syariah di Indonesia Periode 1998 – 2003


BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Sejak awal kelahirannya, perbankan syariah dilandasi dengan kehadiran dua gerakan renaissance Islam modern : neorevivalis dan modernis. Tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan berlandaskan etika ini adalah tiada lain sebagai upaya kaum muslim untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al – Quran dan As – Sunnah.
Upaya awal penerapan system profit dan loss sharing tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an , yaitu adanya upaya mengelola dana jemaah haji secara nonkonvensional. Rintisan intitusional lainnya adalah Islamic Rural Bank di desa Mit Ghamr pada tahun 1963 di Kairo Mesir.
Setelah dua rintisan awal yang cukup sederhana ini, bank Islam tumbuh dengan sangat pesat yang beroperasi diseluruh dunia, baik dinegara-negara yang berpenduduk muslim maupun di Eropa, Australia maupun Amerika.
Satu hal yang juga patut dicatat adalah saat ini banyak nama besar dalam dunia keuangan internasional seperti Citibank, Jardine Flemming, ANZ, Chase Chemical Bank, Goldman Sech, dan lain-lain telah membuka cabang dan subsidiaries yang berdasarkan syariah.     Dalam dunia pasar modal pun, Islamic fund kini ramai diperdagangkan, suatu hal yang mendorong singa pasar modal dunia Dow Jones untuk menerbitkan Islamic Dow Jones Index .
Oleh karena itu tak heran jika Scharf, mantan direktur utama bank Islam Denmark yang  non muslim itu, menyatakan bahwa bank Islam itu adalah partner baru pembangunan.
Berkembangnya bank-bank syariah di negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode 1980-an, diskusi mengenai bank syariah sebagai pilar ekonomi Islam mulai dilakukan. Para tokoh yang terlibat dalam kajian tersebut adalah
1. Karnael A. Purwataatmaja,
2. M. Dewam Rahardjo, A,
3. M. Saefuddin ,
4. M. Amien Azis, dan lain-lain.
Beberapa uji coba pada skala yang relatif terbatas telah diwujudkan. Diantaranya adalah Baitut Tamwil-Salman, Bandung, yang sempat tumbuh mengesankan. Di Jakarta juga dibentuk lembaga serupa yang berbentuk koperasi, yakni Koperasi Ridho Gusti.
Akan tetapi, prakarsa lebih khusus untuk mendirikan bank Islam di Indonesia baru dilakukan pada tahun 1990 menyelenggarakan Lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua Bogor Jawa Barat. Hasil Lokakarya tersebut dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya Jakarta, 22-25 Agustus 1990. Berdasarkan Amanat Munas IV MUI , dibentuk kelompok kerja untuk mendirikan bank Islam di Indonesia. (M. Syafi’i Antonio, 2001)
Kelompok kerja yang disebut Tim perbankan MUI, bertugas melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak terkait.
Perkembangan perbankan syariah pada era reformasi ditandai dengan disetujuinya Undang-Undang No 10 Tahun 1998. Dalam undang-undang tersebut diatur dengan landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah. Undang-undang tersebut juga memberikan arahan bagi bank-bank konvensional untuk membuka cabang syariah atau bahkan mengkonvensi diri secara total menjadi bank syariah.
Peluang tersebut ternyata disambut antusias oleh masyarakat perbankan. Sejumlah bank mulai memberikan pelatihan dalam bidang perbankan syariah bagi para stafnya. Sebagian bank tersebut ingin menjajaki untuk membuka divisi atau cabang syariah dalam institusinya. Sebagian lainnya bahkan berencana mengkonvensi diri secara total menjadi bank syariah. Hal demikian diantisipasi oleh Bank Indonesia dengan mengadakan “Pelatihan Perbankan Syariah” bagi para pejabat Bank Indonesia dari segenap bagian, terutama terutama aparat yang terkait langsung seperti DPNP (Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan), kredit, pengawasan, akuntansi, riset, dan moneter.
Bank Syariah Mandiri (BSM) merupakan bank milik pemerintah pertama yang melandaskan operasionalnya pada prinsip syariah. Secara structural, BSM berasal dari Bank Susila Bakti (BSB), sebagai salah satu anak perusahaan dilingkup Bank Mandiri (ex BDN), yang kemudian dikonversikan menjadi bank syariah secara penuh.
Satu perkembangan lain perbankan syariah di Indonesia pasca reformasi adalah diperkenankannya konversi cabang bank umum konvensional menjadi bank syariah.
Dalam beberapa hal, bank konvensional dan bank syariah memiliki persamaan, terutama pada sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi computer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan, dan sebagainya. Akan tetapi, terdapat banyak perbedaan mendasar diantara keduanya. Perbedaan itu menyangkut aspek legal, stuktur organisasi, usaha yang dibiayai, dan lingkungan kerja. (Adiwarman Karim , 2002)
Dalam bank syariah , akad yang dilakukan memiliki konsekwensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Seringkali nasabah berani melanggar kesepakatan/perjanjian yang telah dilakukan bila hukum itu hukum positif belaka, tapi tidak demikian bila perjanjian tersebut memiliki pertanggungjawaban hingga yaumil qiyamah nanti.
Setiap akad dalam perbankan syariah , baik dalam hal barang, perilaku transaksi, maupun ketentuan lainnya, harus memenuhi ketentuan akad, seperti hal-hal berikut,
1.   Rukun
Seperti :
-    penjual,
-          pembeli,
-          barang,
-          bunga,
-          akad/ ijab-qabul
2.   Syarat
Seperti syarat berikut :
-          Barang dan jasa harus halal sehingga transaksi atas barang dan jasa yang haram menjadi batal demi hukum syariah.
-          Harga barang dan jasa harus jelas.
-          Tempat penyerahan (delivery) harus jelas karena akan berdampak pada biaya transportasi.
-          Barang boleh ditransaksikan harus sepenuhnya dalam kepemilikan.
Bank syariah dapat memiliki stuktur yang sama dengan bank konvensional, misalnya dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur yang membedakan adalah harus adanya Dewan Pengawas Syariah  yang bertugas mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah.
Dewan Pengawas Syariah biasanya diletakan pada posisi setingkat Dewan Komisaris pada setiap bank. Hal ini untuk menjamin efektivitas dan setiap opini yang diberikan oleh Dewan Pengawas Syariah. Karena itu, biasanya penempatan Badan Pengawas Syariah dilakukan oleh Rapat. Umumnya Pemegang Saham, setelah para anggota Dewan Pengawas Syariah itu mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional.
Dalam bank syariah, bisnis dan usaha yang dilaksanakan tidak terlepas dari saringan syariah. Karena itu, bank syariah tidak akan mungkin membiayai usaha yang terkandung di dalamnya hal-hal yang diharamkan.
Dalam perbankan syariah suatu pembiayaan tidak akan disetujui sebelum dipastikan beberapa hal pokok, diantaranya sebagai berikut,
1.   Apakah objek pembiayaan halal atau haram?
2.   Apakah proyek menimbulkan kemudharatan untuk masyarakat ?
3.   Apakah proyek berkaitan dengan perbuatan mesum/asusila ?
4.   Apakah proyek berkaitan dengan penjudian ?
5.   Apakah usaha itu berkaitan dengan industri senjata yang illegal atau berorientasi pada pengembangan senjata pembunuh masal ?
6.   Apakah proyek dapat merugikan syiar islam, baik secara langsung maupun tidak langsung ?
Perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional disajikan dalam tabel 1.1 berikut ini,
Tabel 1.1
Perbandingan antara bank syariah dengan bank konvensional

BANK ISLAM
   
BANK KONVENSIONAL

    Melakukan investasi yang halal-halal saja.
    Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual-beli, atau sewa.
    Profit dan falah oriented.
    Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kemitraan.
    Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah.


   

    Investasi yang halal dan haram.
    Memakai perangkat bunga.
    Profit oriented
    Hubungan dengan nasabah dalam bentuk debitor-debitor
    Tidak terdapat dewan sejenis.




Sumber : Bank Indonesia, Biro Perbankan Syariah
      
Menurut sifat penggunaannya, pembiayaan pada bank dapat dibagi menjadi dua hal berikut,
1.   Pinjaman  produktif
Yaitu pinjaman yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas yaitu untuk peningkatan usaha, baik usaha produksi, perdagangan, maupun investasi.
2.   Pinjaman konsumtif
Yaitu pinjaman  yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan.
        Menurut keperluannya, pinjaman produktif dapat dibagi menjadi dua hal berikut.
1.   Pinjaman modal kerja
Yaitu pinjaman untuk memenuhi kebutuhan
a.   peningkatan produksi
b.   untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang.
2.   Pinjaman  investasi
Yaitu pinjaman untuk memenuhi kebutuhan barang-barang modal (capital goods) serta fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan itu.
        Bank konvensional memberikan kredit kerja dengan cara memberikan pinjaman sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendanai seluruh kebutuhan yang merupakan kombinasi dari komponen-komponen modal kerja tersebut, baik untuk keperluan produksi maupun perdagangan dalam waktu tertentu,dengan imbalan berupa bunga.
Bank syariah dapat membantu seluruh kebutuhan modal kerja tersebut bukan dengan meminjamkan uang, tetapi dengan menjalin hubungan partner ship dengan nasabah, dimana bank bertindak sebagai pengusaha penyandang dana (shahibul maal),  sedangkan nasabah sebagai pengusaha (mudharib). Skema pembiayaan semacam ini disebut dengan mudharabah (trust financing). Fasilitas ini dapat diberikan dalam jangka waktu tertentu, sedangkan bagi hasil dibagi secara periodik dengan nisbah yang disepakati. Setelah jatuh tempo, nasabah mengembalikan jumlah dana tersebut beserta porsi bagi hasil (yang belum dibagikan) yang menjadi bagian bank.
        Bank syariah dapat menyediakan pinjaman komersil untuk pemenuhan kebutuhan barang konsumsi dengan menggunakan skema berikut ini,
1.   Al-bai’bi tsaman ajil atau jual beli dengan angsuran
2.   Al-ijarah al-muntahia atau sewa beli
3.   Al-musyarakah mustanaqhishah atau decresing participation, dimana secara bertahap bank menurunkan jumlah partisipasinya.
4.   Ar-Rahn untuk memenuhi kebutuhan jasa.
Pembiayaan konsumsi tersebut diatas lazim digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sekunder. Adapun kebutuhan primer pada umumnya tidak dapat dipenuhi dengan pinjaman komersil. Seseorang yang belum mampu memenuhi kebutuhan pokoknya tergolong fakir atau miskin. Oleh karena itu, ia wajib diberi zakat atau sedekah, atau maksimal diberikan pinjaman kebajikan (al-qardh al-hasan), yaitu pinjaman dengan kewajiban pengembalian pinjaman pokoknya saja, tanpa imbalan apapun.
Dalam perbankan syariah, sebenarnya penggunaan kata pinjam-meminjam kurang tepat digunakan disebabkan dua hal. Pertama, pinjaman merupakan salah satu metode hubungan financial dalam islam. Kedua, dalam islam pinjam-meminjam adalah akad sosial, bukan akad komersial. Artinya, bila seseorang meminjam sesuatu, ia tidak boleh disyaratkan untuk memberikan tambahan atas pokok pinjaman.  Hal ini didasarkan pada hadist Nabi SAW. Yang mengatakan bahwa setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat atau riba, sedangkan para ulama sepakat bahwa riba itu haram. Karena itu pada perbankan syariah, pinjaman tidak disebut kredit, tetapi pembiayaan (financing).
Seperti dalam perbankan konvensional, perbankan syariah memetapkan syarat-syarat umum untuk sebuah pinjaman, seperti hal-hal berikut,
1.           Surat permohonan tertulis, dengan dilampiri proposal yang memuat gambaran umum usaha, rencana atau prospek usaha, rincian dan rencana penggunaan dana, jumlah kebutuhan dana, dan jangka waktu penggunaan dana.
2.           Legalitas usaha, seperti identitas diri, akta pendirian usaha, surat izin umum perusahaan, dan tanda daftar perusahaan.
3.           Laporan keuangan, seperti neraca dan laporan rugi laba, data persediaan terakhir, data penjualan, dan fotokopi rekening bank.
Contoh-contoh perhitungan praktis :
1.   Al-Murabahah
Misalkan seorang nasabah ingin memiliki sebuah motor. Ia dapat memohon kepada bank syariah agar bank membelikannya. Setelah diteliti dan dinyatakan dapat diberikan, bank membelikan motor tersebut dan memberikannya kepada nasabah. Jika harga motor tersebut Rp 4.000.000,00 dan bank ingin mendapatkan keuntungan
Rp 800.000,00 selama dua tahun, maka harga yang ditetapkan kepada nasabah sebesar Rp 4.800.000,00. Nasabah dapat mencicil pembayaran tersebut Rp 200.000,00 perbulan.
2.   Bai’as-Salam
Seorang petani memerlukan dana sebesar Rp 2.000.000,00 untuk mengolah sawahnya seluas 1 hektar. Ia datang ke bank dan memohon permohonan dana untuk keperluan itu. Setelah diteliti dan dinyatakan dapat diberikan , bank memerlukan akad bai’as-Salam dengan petani, dimana bank akan membeli gabah, misalnya, jenis IR dari petani untuk jangka waktu 4 bulan sebanyak 2 ton dengan harga
Rp 2.000.000,00. Pada saat jatuh tempo, petani harus menyetor gabah yang dimaksud kepada bank. Jika bank tidak memerlukan  gabah untuk keperluannya sendiri, bank dapat menjualnya kepada pihak lain, atau meminta petani mencarikan pembelinya dengan harga yang lebih tinggi, misalnya Rp 1.200,00 perkilogram. Dengan demikian, keuntungan bank dalam hal ini adalah Rp 400.000,00 atau
(Rp 200,00 x 2000 kg).
3.   Bai’al-Istishna
Seorang yang ingin membangun atau merenovasi rumah dapat mengajukan permohonan dana untuk keperluan itu dengan cara bai’al-Istishna, bank berlaku sebagai penjual yang menawarkan pembangunan/renovasi rumah. Bank lalu membeli/memberikan dana, misalnya Rp 30.000.000 secara bertahap. Stelah rumah itu jadi, secara hukum Islam rumah/ hasil renovasi rumah itu masih menjadi milik bank dan sampai tahap ini akad istisna sebenarnya telah selesai. Karena bank tidak ingin memiliki rumah tersebut, bank menjualnya kepada nasabah dengan harga yang disepakati, misalnya Rp 39.000.000,00 dengan jangka waktu pembayaran 3 tahun. Dengan demikian, bank memperoleh keuntungan Rp 9.000.000,00.
4.   Al-Mudharabah
Seorang pedagang yang memerlukan modal untuk berdagang dapat mengajukan permohonan untuk pembiayaan bagi hasil  seperti mudharabah, dimana bank bertindak sebagai shahibul maal dan nasabah selaku mudharabah. Caranya adalah dengan mengitung dulu perkiraan pendapatan yang akan diperoleh nasabah dari proyek yang bersangkutan. Misalnya, dari modal Rp 30.000.000,00 diperoleh pendapatan Rp 5.000.000,00 per bulan. Dari pendapatan itu harus disisihkan dahulu untuk tabungan pengembalian modal misalnya Rp 2.000.000,00 selebihnya dibagikan antara bank dengan nasabah dengan kesepakatan dimuka, misalnya 60% untuk nasabah dan 40% untuk bank.
5.   Musyarakah
Pak Budi adalah seorang pengusaha yang akan melaksanakan suatu proyek. Usaha tersebut memerlukan modal Rp 100.000.000,00. Ternyata setelah dihitung, Pak Budi hanya memiliki Rp 50.000.000,00 atau 50% dari modal yang diperlukan. Pak Budi kemudian datang ke sebuah bank syariah untuk mengajukan pembiayaan dengan skema musyarakah. Dalam hal ini, kebutuhan terhadap modal Rp 100.000.000 dipenuhi oleh nasabah 50% dan 50% dari bank. Setelah proyek selesai, nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati untuk bank. Seandainya keuntungan dari proyek itu Rp 20.000.000 dan nisbah atau porsi bagi hasil yang disepakati adalah 50:50, pada akhirnya Pak Budi harus mengembalikan dana sebesar Rp 50.000.000,00 (dana pinjaman dari bank) ditambah Rp 10.000.000,00 (50% keuntungan untuk bank).

6.   Musyarakah Mutanaqishah
Nasabah dan bank berkongsi dalam pengadaan suatu barang (biasanya rumah atau kendaraan), misalkan 30% dari nasabah dan 70% dari bank. Untuk memiliki barang tersebut, nasabah harus membayar kepada bank sebesar porsi yang dimiliki bank. Karena pembayarannya dilakukan secara angsuran, penurunan porsi kepemilikan bank pun berkurang secara proporsional sesuai dengan besarnya angsuran. Barang yang telah dibeli secara kongsi tadi baru akan menjadi milik nasabah setelah porsi nasabah menjadi 100% dan porsi bank 0%.
7.   Al-Ijarah
Bank syariah yang mengoperasikan ijarah dapat melakukan leasing, baik operational lease maupun financial lease. Akan tetapi, pada umumnya bank-bank syariah lebih banyak melakukan financial lease with purchase option atau ijarah muntahia bit-tamlik. Hal ini karena skema  lebih sederhana dari sisi pembukuan dan bank tidak direpotkan oleh beban pemeliharan asset. Ditinjau dari hal tersebut, ijarah lebih sering dipakai untuk pembiayaan investasi dan customer loan.

Syarat kehidupan sehari-hari kian lama kian rumit. Karena itu pentingnya pinjaman konsumtif  untuk kebutuhan pokok bagi tiap orang tidak berlebihan. Pinjaman konsumtif  sedikit banyak bersifat tidak produktif, walaupun ada pengaruhnya pada produktifitas masyarakat secara tidak langsung, yaitu mendorong produksi dan supply. Tentu saja pinjaman harus ada tanggungan berupa deposito atau bukti harta tetap yang dimiliki si peminjam.
Maka dalam tataan sosial Islami pemerintah terpaksa menarik pajak semua deposito dan saldo kredit untuk memperoleh biayanya. Rakyat tidak akan merasa berat memikul beban perpajakan ini karena adanya pelayanan cuma-cuma, dengan demikian, perdagangan, perniagaan, dan industri pun akan tumbuh dengan pesat. Akibatnya, sumberdaya ekonomi akan dimanfaatkan dengan baik, masalah pengangguran akan terpecahkan, dan pendapatan nasional pun akan meningkat dalam suatu negara Islam. Pada semua negara Islam terdapat sejenis pinjaman yang khas yang disebut Qard i-Hasanah yang artinya suatu pinjaman tanpa bunga. Seseorang yang berhutang harus menyelesaikan semua utangnya sebelum ia meninggal dunia, kalau tidak maka ia berdosa, dalam beberapa hal si pemberi pinjaman akan memberi Qard i-Hasanah, pinjaman tanpa bunga yang harus dibayar kembali.( M.A.Mannan,1992)


Dengan berpatokan kepada pinjaman tanpa bunga ,maka fenomena ini menjadi latar belakang penulis untuk memilih judul :
“  Analisis Pinjaman Konsumtif Riil Pada Bank Syariah
di Indonesia Periode  1998.2 - 2003.1”

1.2Identifikasi Masalah
Dengan demikian identifikasi permasalahan dalam penelitian ini akan menganalisis tentang :
1.   Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan pinjaman konsumtif pada Bank Syariah di Indonesia?
2.   Diantara faktor-faktor tersebut, faktor mana yang lebih berpengaruh terhadap permintaan pinjaman  konsumtif pada Bank Syariah di Indonesia?

1.3Tujuan penelitian
Berdasarkan hal-hal diatas maka penelitian ini bertujuan:
1.             Untuk mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan pinjaman konsumtif pada Bank Syariah di Indonesia.
2.             Untuk mengetahui tentang faktor mana yang lebih berpengaruh terhadap permintaan pinjaman konsumtif pada Bank Syariah di Indonesia.

1.4Kerangka Pemikiran
1.4.1 Definisi bank syariah
Bank syariah adalah suatu lembaga keuangan yang berlandaskan etika dan mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
1.4.2 Bank syariah yang terdapat di Indonesia,

    Bank IFI (membuka cabang syariah pada 28 Juni 1999),
    Bank Niaga (akan membuka cabang syariah),
    Bank BNI’46 (telah membuka 5 cabang syariah),

    4.  Bank BTN (akan membuka cabang syariah),
5. Bank Mega (akan mengkonversikan satu bank konvensional             anak perusahaannya menjadi bank syariah),

    Bank BRI (akan membuka cabang syariah),
    Bank Bukopin (tengah melakukan konversi untuk cabang Aceh),
    BPD JABAR (telah membuka cabang syariah di Bandung),
    BPD Aceh (tengan menyiapkan SDM untuk konvensi cabang).

Catatan : Data per November 2000

1.4.3  Pinjaman Konsumtif
Pinjaman  konsumtif diperlukan oleh pengguna dana untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Kebutuhan konsumsi dibedakan atas kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer adalah kebutuhan pokok atau dasar baik berupa barang, seperti makanan , minuman, pakaian dan tempat tinggal maupun berupa jasa seperti pendidikan dasar dan pengobatan. Adapun kebutuhan sekunder adalah kebutuhan tambahan, yang secara kuantitatif dan kualitatif lebih tinggi ataupun lebih mewah dari kebutuhan primer, baik berupa barang seperti makan dan minuman, pakaian/perhiasan, bangunan rumah dan kendaraan dan sebagainya, maupun berupa jasa seperti pendidikan dan pelayanan kesehatan, pariwisata dan hiburan.(M, Syafi’i Antonio, 2001,hal 168)
Sedangkan untuk Syariah yang dikatakan dengan konsumsi adalah permintaan dan produksi adalah penyediaan kebutuhan konsumen yang kini dan yang sebelumnya, merupakan insentif pokok bagi kegiatan-kegiatan ekonominya sendiri. Mereka mungkin tidak hanya menyerap pendapatannya tetapi juga memberi insentif untuk meningkatkannya. Hal ini mengandung arti bahwa pembicaraan mengenai konsumsi adalah primer. (M. A Mannan,1992 hal 44)
Perbedaan antara ilmu ekonomi modern dan ilmu ekonomi Islam adalah dalam hal konsumsi yaitu terletak pada cara pendekatannya dalam memenuhi kebutuhan seseorang. Islam tidak mengakui kegemaran materialistis semata-mata dari pola konsumsi modern.
Aturan pertama mengenai konsumsi terdapat dalam ayat suci Al-Quran :
“ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi ............” (Q.S, Al-Baqarah,2:169)   
Pada tabel 1.2 dibawah ini memperlihatkan pembiayaan tanpa bunga yang diberikan oleh bank syariah di Indonesia yang memperlihatkan peningkatan, apalagi dengan pengalamannya dengan sangat minim untuk ukuran bank di Indonesia,

Tabel 1.2
Pinjaman   yang diberikan Perbankan Syariah
( Juta Rupiah)
Bulan – tahun
   
Jumlah
September 2001
   
1.939.087
Desember 2001
   
2.049.793
Maret 2002
   
2.153.084
Sumber:Bank Indonesia, Biro Perbankan Syariah

1.4.4 Teori Permintaan Uang Keynes
Menurut Keynes teori permintaan uang didorong oleh 3 (tiga) hal yaitu :

1.           Motif transaksi (Transaction Motive)
Keynes berpendapat bahwa orang-orang yang memegang uang guna memenuhi dan melancarkan transaksi-transaksi yang dilakukan, dan permintaan akan uang dari masyarakat untuk tujuan ini dipengaruhi oleh tingkat pendapatan nasional dan tingkat bunga. Semakin tinggi pendapatan nasional semakin besar volume transaksi dan semakin besar pula kebutuhan akan uang untuk memenuhi kebutuhan transaksi. Selain itu, Keynes berpendapat bahwa permintaan akan uang untuk tujuan transaksi ini pun tidak merupakan suatu proporsi yang konstan, tetapi dipengaruhi pula oleh tinggi rendahnya tingkat bunga. Tapi, Keynes tidak terlalu menekankan faktor bunga untuk motif ini.
2.           Motif berjaga-jaga (Precautionary motive)
Selain untuk keperluan transaksi, permintaan akan uang bertujuan untuk memenuhi kemungkinan yang tidak terduga atau untuk melakukan pembayaran-pembayaran yang diluar transaksi normal. Menurut keynes, permintaan akan uang untuk tujuan berjaga-jaga ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan akan uang untuk transaksi, yaitu terutama dipengaruhi oleh tingkat penghasilan orang tersebut dan mungkin dipengaruhi pula oleh tingkat suku bunga.
3.           Motif spekulasi (Speculative motive)
Motif dari pemegang yang ini bertujuan untuk memperoleh “keuntungan”  yang bisa diperoleh seandainya si pemegang uang mampu meramal apa yang akan terjadi dengan benar. Keynes tidak membicarakan faktor “uncertainty” dan “expectation” secara umum, tetapi ia membatasi “uncertainty” dan “expectation” pada suatu variabel, yaitu tingkat suku bunga sebagai opportunity cost ditekankan oleh keynes, dimana semakin tinggi tingkat bunga maka semakin rendah permintaan uang untuk spekulasi, begitu juga sebaliknya.
Hal yang berbeda dinyatakan oleh Keynes sehubungan dengan kesimpulan dari Irving fisher  di atas. Keynes berpendapat bahwa perubahan tingkat bunga dapat mempengaruhi tingkat harga, meskipun kuantitas uang M masih tetap sebagai variabel kunci. Dengan kata lain, Keynes menyatakan bahwa selain kuantitas M, tingkat bunga bisa mempengaruhi tingkat harga.
Persamaan permintaan akan uang versi Keynes merupakan permintaan akan saldo riil, dimana permintaan seseorang untuk saldo riil tidak berubah apabila harga berubah. Permintaan uang untuk saldo riil/real balances (Md/P) ditentukan dari besarnya pendapatan riil (Y) serta opportunity cost (i). Secara matematis formula Keynes untuk permintaan uang dapat dituliskan sebagai berikut:
                                  
Selanjutnya, dengan menarik fungsi preferensi likuiditas untuk velocity PY/M, kita dapat melihat bahwa teori permintaan uang Keynes berdampak bahwa velocity of money tidaklah konstan tetapi sebaliknya berfluktuasi dengan pergerakan tingkat bunga. Persamaan preferensi likuiditas dapat ditulis kembali sebagai berikut:
Dengan mengalikan kedua sisi persamaan di atas dengan Y dan menganggap bahwa Md dapat diganti dengan M karena pada saat pasar uang dalam kondisi ekulibrium jumlah uang M yang dipegang oleh masyarakat sama dengan jumlah permintaan uang Md,  maka persamaan untuk velocity of money menjadi
Dari persamaan di atas diketahui bahwa permintaan uang berhubungan secara negatif dengan tingkat bunga; ketika i naik, f(i, Y) turun, oleh karena itu velocity of money juga naik. Dalam perkataan yang lain, kenaikan tingkat bunga mendorong masyarakat untuk memegang real money balances lebih sedikit pada tingkat pendapatan yang tetap. Sehingga tingkat perputaran uang menjadi lebih tinggi. Hal ini secara tidak langsung menyatakan bahwa tingkat bunga memainkan peranan yang penting untuk mempengaruhi tingkat perputaran uang.
Lebih lanjut, model permintaan uang untuk spekulasi Keynes juga dapat menjelaskan kenapa perputaran uang berfluktuasi. Apa yang akan terjadi terhadap permintaan uang apabila tingkat bunga normal berubah? Misalnya, apa yang akan terjadi jika di masa yang akan datang masyarakat mengharapkan tingkat bunga normal lebih tinggi daripada tingkat bunga normal sekarang? Karena tingkat bunga diharapkan lebih tinggi di masa yang akan datang, maka masyarakat mengharapkan di masa mendatang harga obligasi turun sehingga para pemegang obligasi akan mengalami capital loss. Dengan demikian, memegang uang akan menjadi lebih menarik daripada memegang obligasi. Akibatnya, jumlah permintaan uang naik. Hal ini berarti bahwa f (i, Y) akan naik dan akibatnya velocity of money turun. Jadi, velocity of money akan berubah apabila ekspektasi tentang tingkat bunga normal di masa yang akan datang berubah, dan ketidakstabilan ekspektasi tentang pergerakan tingkat bunga normal di masa yang akan datang akan menyebabkan velocity of money menjadi tidak stabil pula. (Gujarati, 2003)
1.5Metode Penelitian
1.5.1 Metode yang digunakan
Dalam penulisan skripsi ini metode penelitian yang dilakukan adalah melalui pendekatan deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data sekunder, yaitu dengan menggambarkan atau melukiskan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara variabel yang diteliti.
Untuk analisa kuantitatif, penulis menggunakan alat bantu ekonometrika. Teknik ekonometrika yang bersifat time series digunakan dalam menguji masing-masing variabel independent terhadap variabel dependent dan bersifat korelasional dengan menggunakan metode regresi sederhana yaitu OLS (Oldinary Least Square).
1.5.2 Sumber data
Dalam hal ini perlu pula dijelaskan bahwa data pendukung untuk analisis dalam skripsi ini adalah data triwulan (tiga bulanan) dari periode1998.2 – Juni 2003.1
Semua data yang digunakan adalah data sekunder yang diterbitkan oleh :
1.   Bank Indonesia
2.   Biro Pusat Statistik
3.   Referensi studi kepustakaan melalui jurnal, artikel, makalah, litelatur dan bahan-bahan lain, perpustakaan UNPAD, koleksi buku kajian ekonomi Islam, Perpustakaan Bank Indonesia, Internet, serta sumber-sumber lain yang berhubungan dengan penelitian ini.
1.5.3 Model ekonometrik
Pada penelitian ini  model yang digunakan adalah model dari penelitian Ahmad Kaleem dan Khan ,1990 yaitu tentang penelitian stabilisasi keuangan dan kredit bank syariah (studi kasus di Malaysia).
ln(Credit(isl)/P)t = a+ b1lnYRt + b2lnPt + b3ln(credit             (isl)/P)t-1 + b4Dummy+mt
Keterangan :
·         Kredit (Isl ) = Kredit Islam (kredit syariah)
·         Kredit/P =  Kredit riil
·         Y = Pendapatan riil
·         R = Tingkat suku bunga
·         P = Tingkat inflasi
·         a, b1, b2, b3, b4 = Parameter
·         t = waktu
·         m = Unsur gangguan
·         Dummy = Akibat krisis yang dtimbulkan
Sedangkan untuk penelitian ini model adopsi dari penelitian Ahmad Kaleem dan Khan dengan menghilangkan variabel Dummy dan formulasinya menjadi :
ln(Credit(isl)/P)t= a+ b1lnYt + b2lnPt + b3ln(credit (isl)/P)t-1+ µ
Keterangan :
·         Credit (Isl )  = Pinjaman  Konsumtif
·         Credit (isl)/P = Pinjaman Konsumtif Riil
·         Y = GDP Riil
·         P = Indeks Harga Konsumen
·         a, b1, b2, b3, b4 = Parameter
·         t = waktu
·         µ = Unsur gangguan

1.6Metode Analisis (Gujarati,2003)
Sebelum dilakukan analisis ekonomi terhadap pengolahan data berdasarkan model yang telah di bentuk, terlebih dahulu akan dilakukan pengujian dengan menggunakan metode pengujian statistik, antara lain :
1.6.1 Uji Determinasi (R2)
Uji ini menunjukkan besarnya kemampuan variabel bebas (independent variable) untuk menerangkan variabel tidak bebas (dependent variable) secara bersamaan dengan tujuan untuk mengukur kebaikan dan kebenaran hubungan antara variabel dalam model yang digunakan. Nilai R2 berkisar antara 0-1, dimana semakin besar nilainya (mendekati 1) maka semakin dekat hubungan antara variabel tidak bebas dengan variabel bebasnya.
1.6.2 Uji t
Uji t dilakukan untuk menguji tingkat signifikan variabel bebas terhadap variabel tidak bebas melalui koefisien regresi suatu model. Kriteria yang digunakan dalam  penelitian ini adalah pengujian dua arah (two tailed significance level). Dengan demikian berlaku pengujian sebagai berikut :
·         Jika t stst > t tabel atau t stat < t tabel maka pengaruhnya signifikan
·         Jika –t tabel < t stat < +t tabel maka pengaruhnya tidak signifikan
1.6.3 Uji F
Uji f digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap pergerakan variabel dependen dengan nilai koefisien determinan R :
F = ESS / ( k – 1 )
         RSS / ( n – k )
Keterangan :
·         F Statistik F yang menyebar mengikuti distribusi F dengan derajat bebas k-1 dan       n-k
·         ESS : jumlah kuadrat yang dijelaskan
·         RSS : jumlah kuarat residual
·         k – 1 : derajat bebas regresi, dengan k adalah  banyaknya parameter dalam model regresi
·         n – k : derajat bebas error dimana n adalah banyaknya pengamatan (ukuran sampel)
Seandainya seluruh nilai sebenarnya dari seluruh variabel regresi ini sama dengan nol, maka dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan linear antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas dalam model. Sebaiknya jika angka F statistik lebih besar dari nilai kritis pada tingkat signifikansi tertentu, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel bebas  dalam model tersebut secara bersama-sama akan mempengaruhi variabel tidak bebas pada tingkat signifikan tertentu.
1.6.4 Uji Durbin Watson
Uji statistik Durbin–Watson digunakan untuk mendeteksi masalah autokorelasi (serial korelasi) dalam suatu model regresi linier. Autokorelasi adalah korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data time series) atau ruang (seperti dalam data cross sectional). Hipotesis yang digunakan adalah:
H0 : tidak ada autokorelasi dalam model regresi
H1 : terdapat autokorelasi dalam model regresi
Pengujian yang dilakukan untuk menyatakan adanya autokorelasi pada error-terms adalah dengan melihat nilai Durbin-Watson yang diperoleh dengan memperhatikan kriteria-kriteria yang didasarkan pada tabel 1.3 berikut ini.
Tabel 1.3
Batas Kritis Hipotesis untuk DW Statistik
Nilai DW berdasarkan
Estimasi Model Regresi
   
Kesimpulan

0 < DW < DL
DL < DW < DU
DU < DW < (4 - DU)
(4 - DU) < DW < (4 - DL)
(4 - DL) < DW < 4
   
H0 ditolak, terdapat autokorelasi positif
Daerah Ragu-ragu
H0  diterima, tidak terdapat autokorelasi
Daerah Ragu-ragu
H0 ditolak, terdapat autokorelasi negative
Sumber: Damodar N. Gujarati. 1993. Ekonometrika Dasar. Jakarta : Erlangga.
1.6.5 Run Test
Uji ini dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya masalah autokorelasi dalam model, dengan melakukan perhitungan terhadap pergerakan (positif dan negatif) residual yang diperoleh dari selisih antara nilai aktual dari variabel dependen terhadap estimasinya. Setelah diperoleh data residual, maka ditentukan jumlah nilai residual yang positif (N1), nilai negatif (N2), jumlah/banyaknya run atau perubahan nilai positif dan negatif residual (n) dan jumlah observasinya (N).
       
Print Friendly and PDF
You might also like:

    Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
    CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN SDM - PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN MANAJER TERHADAP KEPUASAN PEKERJA DI CV. JABAR KARYA UTAMA UNTUK PEKERJAAN OPTIMALISASI MESJID DI DINAS TATA RUANG DAN PERMUKIMAN PROPINSI JAWA BARAT
    Contoh Skripsi Perhotelan
    CONTOH SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
    CONTOH SKRIPSI TEKHNIK MESIN JUDUL : ANALISA PENGARUH WAKTU TAHAN TERHADAP BAJA KARBON RENDAH DENGAN METODE PACK CARBURIZING

CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN SDM

 Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan

Saat ini saya ingin memposting Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
BAB I
PENDAHULUAN
 1.1 Latar Belakang Masalah Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
Dalam perekonomian suatu negara, tabungan dan investasi merupakan indikator yang dapat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang (developing countries) termasuk didalamnya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, memiliki dana yang cukup besar. Tetapi di sisi lain, usaha pengerahan sumber dana dalam negeri untuk membiayai pembangunan menghadapi kendala dalam pembentukan modal  baik yang bersumber dari penerimaan pemerintah yaitu ekspor barang dan jasa ke luar negeri, ataupun penerimaan pemerintah melalui instrumen pajak
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997 yang kemudian menjadi krisis multidimensi berdampak kondisi Indonesia secara umum tidak hanya terhadap sektor ekonomi saja. Nilai tukar rupiah yang terdepresiasi sangat tajam, inflasi yang tinggi, menurunnya kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia, merupakan beberapa akibat dari krisis ekonomi tersebut. Lambat laun, dengan beberapa kali perubahan struktur politik dan penerapan kebijakan-kebijakan oleh pemerintah, kondisi Indonesia menunjukan perubahan yang lebih baik dan kondisi perekonomian yang stabil.
Di Indonesia, untuk membiayai pembangunan nasional yang mencakup investasi domestik, sumber dananya dapat bersumber dari tabungan nasional dan pinjaman luar negeri. Namun, karena terbatasnya jumlah dana serta pinjaman yang diperoleh dari luar negeri, maka diperlukan tabungan nasional yang lebih tinggi sebagai sumber dana yang utama.
Perlunya tabungan nasional ini dibuktikan dengan adanya saving-investment gap yang semakin melebar dari tahun ke tahun yang menandakan bahwa pertumbuhan investasi domestik melebihi kemampuan dalam mengakumulasi tabungan nasional.     Secara umum, usaha pengerahan modal dari masyarakat dapat berupa pengerahan modal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Pengklasifikasian ini didasarkan pada sumber modal yang dapat digunakan dalam pembangunan. Pengerahan modal yang bersumber dari dalam negeri berasal dari 3 sumber utama[1], yaitu : pertama, tabungan sukarela masyarakat. Kedua, tabungan pemerintah, dan ketiga tabungan paksa (forced saving or involuntary saving). Sedangkan modal yang berasal dari luar negeri yaitu melalui pinjaman resmi pemerinyah kepada lembaga-lembaga keuangan internasional seperti  International Monetary Fund (IMF), Asian Development Bank (ADB), World Bank, maupun pinjaman resmi bilateral dan multilateral, juga melalui foreign direct investment (FDI).
Hollis Chenery dan beberapa penulis lainnya telah mengenalkan pendekatan ‘dua-jurang’ pada pembangunan ekonomi. Dasar pemikirannya, ‘jurang tabungan’ dan ‘jurang devisa’ merupakan dua kendala yang terpisah dan berdiri sendiri pada pencapaian target tingkat pertumbuhan di negara kurang maju. Chenery melihat bantuan luar negeri sebagai suatu cara untuk menutup kedua jurang tersebut dalam rangka mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan[2]. Sumitro (1994:44) menjelaskan bahwa kekurangan didalam perimbangan antara tabungan nasional dan investasi harus ditutup dengan pemasukan modal dari luar yang berasal dari tabungan oleh kalangan luar negeri.
Pada negara berkembang dan miskin, kondisi yang paling menonjol adalah belum terciptanya kondisi yang mendorong pada iklim dimana kegairahan untuk menabung dan penanaman modal menunjukan tingkat yang menggembirakan. Sistem produksi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat masih menggunakan pola tradisional. Masih terbatasnya sektor modern dan belum berfungsinya secara efektif dan efisien institusi-institusi keuangan yang disebabkan oleh pola pikir masyarakat yang masih tradisional menyebabkan pengerahan dana dari masyarakat mengalami kesulitan.
Dengan latar belakang ditetapkannya Paket Kebijakan Oktober 1988 atau yang lebih dikenal dengan “PAKTO 88”, yang pokok-pokok kebijakannya berisi antara lain untuk mengerahkan dana dari masyarakat dengan cara memudahkan pembukaan kantor cabang baru, pendirian bank swasta baru, keleluasaan penyelenggaraan tabungan, dan perluasan kantor cabang bank. Setelah adanya “PAKTO 88” ini, semakin mudahlah bank didirikan dan semakin bervariasi juga bentuk-bentuk tabungan yang ditawarkan oleh bank-bank yang sudah terbentuk baik swasta maupun pemerintah. Semenjak saat itu, tabungan nasional mulai meningkat drastis. Dalam tahun-tahun sebelumnya tampak adanya kecenderungan persaingan antar berbagai negara untuk memperbesar arus investasi baik asing maupun domestik. Persaingan terutama terjadi karena kebutuhan dana yang sangat besar dan mendesak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi terutama di negara-negara berkembang.
Indonesia terbuka secara resmi dan efektif terhadap penanaman modal sejak tahun 1967 ketika pemerintah orde baru memberlakukan undang-undang Penanaman Modal Asing yang diikuti dengan undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri tahun 1968. Selanjutnya, Indonesia mengalami periode pasang surut dalam penerimaan arus modal investasi, kebijakan devaluasi rupiah tahun 1983 mempengaruhi tingkat pertumbuhan investasi secara total maupun sektoral. Tahun 1991 ketika terjadi gebrakan Sumarlin II (tight money policy) yaitu kebijakan yang dimaksudkan untuk mengontrol tingkat inflasi, menjaga defisit neraca transaksi berjalan agar tidak melebihi batas yang masih bisa diterima, mengawasi uang luar negeri, serta menjaga performance Indonesia dimata investor. Gebrakan ini secara tidak langsung menurunkan investasi.
Sukses tidaknya suatu negara dalam menarik arus dana investasi tidak terlepas dari berbagai faktor ekonomi dan non ekonomi. Pada dasarnya pemberian fasilitas yang sifatnya mendorong investor untuk berinvestasi seperti pembebasan pajak (tax holiday) dan kemudahan untuk mengakses bahan baku akan sangat efektif bila didukung oleh[3] :
-       Negara tujuan investasi memiliki keunggulan komparatif ekonomi yang berkaitan dengan faktor-faktor produksi seperti sumber daya alam dan sumber daya manusia yang terampil dan murah.
-       Nilai tukar yang relatif stabil, terutama untuk investor yang berorientasi pasar luar negeri
-       Peraturan devisa di negara bersangkutan tidak menghalangi penanam modal untuk memindahkan kekayaan dan keuntungannya ke luar negeri.
-       Iklim politik dan keamanan negara cukup menjamin ketentraman hidup dan keamanan usaha serta kekayaan investor.
-       Iklim usaha yang menunjang dan mendorong penanaman modal.
-       Infrastruktur yang menunjang dan memadai.
Investasi memegang peranan penting dalam meningkatkan pembangunan nasional dan sebagai salah satu komponen yang berhubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi.
Dari paparan latar belakang diatas dan berdasarkan fenomena yang terjadi di Indonesia, maka penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul :
“ Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan
dan Investasi Swasta di Indonesia Periode 1984-2003”.

1.2 Identifikasi Masalah Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
Penelitian ini akan membatasi permasalahan sesuai dengan paparan diatas, yaitu:

    Bagaimanakah pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi tabungan swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003?
    Bagaimanakah pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi investasi swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003?
    Bagaimana pengaruh dari krisis ekonomi tahun 1997 terhadap tingkat tabungan dan investasi swasta di Indonesia periode 1984-2003?


1.3 Tujuan Penelitian Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
Penelitian ini bertujuan :

    Untuk  mengetahui bagaimana pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi tabungan swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003.
    Untuk  mengetahui bagaimana pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi investasi swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003.
    Untuk  mengetahui bagaimana pengaruh dari krisis ekonomi terhadap tabungan dan investasi swasta di Indonesia periode 1984-2003.


1.4 Kegunaan Penelitian
            Selanjutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan dengan masalah tersebut di atas. Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan literatur dan referensi untuk pengembangan selanjutnya dalam cabang ilmu ekonomi makro.

1.5 Kerangka Pemikiran Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
1.5.1 Tabungan
1.5.1.1 Definisi Tabungan
Tabungan nasional (national saving) dapat didefinisikan sebagai pendapatan total dalam perekonomian yang tersisa setelah dipakai untuk pengeluaran pemerintah dan konsumsi[4]. Dalam suatu negara, investasi domestik dapat dibiayai oleh tabungan nasional dan pinjaman dari luar negeri. Total dana yang tersedia untuk membiayai investasi (I) sama dengan tabungan nasional (S+(T-G)) ditambah dengan pinjaman dari luar negeri (X-M). secara matematis dapat dirumuskan :
I = S + (T-G) + (X-M) …………………………..…….……….(1.1)
Namun untuk mengurangi ketergantungan suatu negara terhadap bantuan dari pihak lain, tabungan nasional diutamakan sebagai sumber pembiayaan investasi domestik. Secara garis besar, tabungan nasional diciptakan oleh tiga pelaku, yaitu pemerintah, perusahaan dan rumah tangga.
Tabungan pemerintah merupakan selisih antara realisasi penerimaan dengan pengeluaran pemerintah. Tabungan perusahaan merupakan kelebihan pendapatan (laba) yang tidak dibagikan kepada pemegang saham yang besarnya dapat diketahui dari neraca perusahaan. Sedangkan tabungan rumah tangga merupakan bagian dari pendapatan yang diterima rumah tangga yang tidak dibelanjakanuntuk keperluan konsumsi. Secara matematis persamaan tabungan dapat dijabarkan sebagai berikut [5]:
Jika tabungan swasta adalah S = (Y-T) – C dan
Tabungan pemerintah adalah (T-G), maka
Tabungan nasional      = S + (T-G)
                                                = (Y-T) – C +(T-G)
                                                = Y – C  - G ………………………….….……..(1.2)
dimana S adalah tabungan swasta
            Y adalah pendapatan aggregat
            T adalah pendapatan pajak netto
            C adalah konsumsi
            G adalah pengeluaran pemerintah
Jika T-G bernilai positif, maka pemerintah akan mengalami budget surplus, dan sektor ini akan ditambahkan pada sektor swasta untuk menambah sumber pembiayaan investasi. Namun jika T-G bernilai negatif berarti pemerintah mengalami  budget deficit, dan pemerintah harus meminjam dana dari pihak lain.

1.5.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi tabungan
Menurut ekonom klasik, seperti Adam Smith, tabungan merupakan fungsi dari tingkat bunga. Tingkat bunga merupakan pembayaran dari tidak dilakukannya konsumsi, imbalan dari kesediaan untuk menunggu dan tidak dilakukannya konsumsi dan pembayaran atas penggunaan dana. Oleh karena itu, jika tingkat bunga naik, jumlah tabungan juga akan meningkat. Tingkat bunga ditentukan dari titik keseimbangan antara tabungan dan investasi.
Alfred Marshall dari kaum neoklasik mengemukakan bahwa terdapat faktor ekonomi dan non ekonomi yang mempengaruhi tabungan[6]. Diantara faktor-faktor ekonomi tersebut, dia menekankan pada tingkat bunga, walaupun mungkin ada keadaan dimana tetap ada tabungan walaupun tungkat bunga negatif.
Selain tingkat bunga, pendapatan juga dikatakan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tabungan nasional. Pendapat tersebut dikemukakan oleh J.M. Keynes dalam teorinya mengenai kecenderungan untuk mengkonsumsi (propensity to consume) yang secara eksplisit menghubungkan antara tabungan dan pendapatan. Keynes menyatakan suatu fungsi konsumsi modern yang didasari oleh perilaku psikologis modern, yaitu apabila terjadi peningkatan pada pendapatan riil, peningkatan tersebut tidak digunakan seluruhnya untuk meningkatlkan konsumsi, tetapi dari sisa pendapatan tersebut juga digunakan untuk menabung, hal ini dapat dijelaskan dalam persamaan berikut :
S ≡ Y – C ………………………………………………..……….……..(1.3)
C = Ĉ + cY       ; Ĉ > 0  ;0 < c <1 o:p="o:p">
Dimana :          S = saving
                        Y = income
                        Ĉ = intercept; tingkat konsumsi ketika pendapatan nol
                        c = marginal propensity to consume
Jika kedua persamaan (1.3) dan (1.4) atau disebut juga budget constraint tersebut digabungkan, maka akan menjelaskan fungsi persamaan tabungan. Fungsi persamaan tabungan sendiri menjelaskan hubungan tingkat tabungan dan tingkat pendapatan. Dengan mensubstitusi persamaan konsumsi (1.3) dengan persamaan budget constraint (1.4), maka kita akan mendapatkan fungsi persamaan tabungan :
S ≡ Y – C = Y - Ĉ – cY = - Ĉ + (1-c)Y ………………..……….(1.5)
Dari persamaan (1.5) kita dapat melihat bahwa tabungan memiliki hubungan positif dengan pendapatan karena marginal propensity to save[7], s =1 – c, adalah positif. Dengan kata lain, tabungan meningkat ketika pendapatan meningkat.
  The life-cycle permanent income theory of consumption and saving (Modigliani,1986)[8] menjelaskan tentang pilihan bagaimana memelihara standar hidup yang stabil dalam menghadapi perubahan pendapatan dalam waktu hidup seseorang. Jadi, teori ini menjelaskan hubungan antara pendapatan sepanjang waktu, konsumsi, dan tabungan. The life cycle hypothesis melibatkan individu, untuk merencanakan  perilaku konsumsi dan perilaku tabungannya dalam jangka panjang dengan tujuan mengalokasikan konsumsinya  dengan cara terbaik untuk seluruh masa hidupnya.
Gambar 1.1 Lifetime Income, Consumption, Saving, and Wealth in the          Life-Cycle Model

                  


Keterangan :    WR = wealth
                        YL = annual labor income
                        C   = consumption
                        WL = working life
                        NL = number of years of life
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa konsumsi konstan sepanjang waktu. Selama masa kerja (WL tahun), individu menabung dan mengumpulkan aset. Pada akhir masa kerjanya, individu mulai menarik kembali aset-aset tersebut, tidak menabung (dissaving / negative saving) pada masa sisa hidupnya (NL – WL) sehingga aset tersebut akan bernilai nol pada akhir hidupnya.
Menurut teori ‘Ricardian Equivalence’, peningkatan pada defisit anggaran pemerintah akan menstimulasi tabungan swasta karena mereka berekspektasi akan terjadi peningkatan pada kewajiban pajak mereka di masa yang akan dating. Sebagai hasilnya, mereka akan mengurangi tingkat konsumsinya dan meningkatkan tabungan. Tetapi teori  ‘Ricardian Equivalence’ tidak dapat digunakan di negara berkembang (Hadjimicheal et al 1995), karena diperlukan adanya eksistensi pasar modal yang efisien, yang jarang ditemui pada karakteristik negara-negara berkembang.

1.5.2 Investasi
1.5.2.1 Definisi Investasi
            Investasi adalah pembelian alat-alat modal, persediaan dagang / inventori, dan struktur usaha, termasuk pembelian rumah baru untuk rumah tangga.  Investasi dihubungkan dengan sektor bisnis yang ditambahkan kepada persediaan modal fisik. Investasi swasta (private investment) adalah output dari perusahaan yang disimpan untuk  perusahaan itu sendiri[9]. Investasi swasta terdiri dari :

    Inventory Investment, termasuk didalamnya semua perubahan dalam persediaan bahan baku (raw materials), perlengkapan, dan produk akhir yang dihasilkan oleh perusahaan.
    Fixed Investment, termasuk didalamnya semua produk yang dibeli oleh perusahaan  yang tidak ditujukan untuk dijual kembali, terdiri dari residential dan nonresidential investment.


1.5.2.2 Determinan Investasi
            The accelerator hypothesis of investment  menyatakan bahwa tingkat investasi netto (net investment) tergantung kepada perubahan ekspektasi output. Langkah pertama dalam hipotesis ini adalah mengukur penjualan yang diharapkan (expected sales) (Ye) yang diestimasi berdasarkan revisi penjualan tahun sebelumnya (Ye-1) oleh suatu proporsi (j), dari perbedaan antara penjualan tahun sebelumnya (Y-1) dan yang diharapkan, sehingga didapat persamaan:
Ye = Ye-1 + j (Y-1 – Ye-1)
                            = j Y-1 + (1-j) Ye-1  ………………………………….…………(1.6)
            Langkah selanjutnya adalah asumsi dari teori ini bahwa persediaan modal, yaitu bangunan dan perlengkapan, yang dibutuhkan perusahaan (K*) adalah perkalian antara keinginan perusahaan untuk meningkatkan persediaan modalnya (ν*) dengan ekpektasi penjualannya:
                        K* = ν*. Ye ………………………………………….…………..(1.7)
Investasi netto adalah perubahan pada persediaan modal (∆K) yang terjadi setiap periode :
In = ∆K = K – K-1 …………………………………...…..…….. (1.8)
Asumsi lain adalah bahwa perusahaan berkeinginann untuk meningkatkan persediaan modalnya dalam setiap periode:
                        In = K – K-1 ……………………………………………………..(1.9)
                        In = ν* (Ye - Ye-1) = ν*. ∆ Ye……………………………….……(1.10)
Jadi, jika terjadi akselerasi usaha dalam perusahaan dan ekspektasi output meningkat, investasi netto pun akan meningkat, tetapi jika akselerasinya negatif dan ekspektasi output  menurun, investasi pun menurun.
            Teori lain mengenai investasi adalah mengenai planned investment spending[10] , yang menjelaskan hubungan antara tingkat suku bunga dan investasi.
Kita dapat menspesifikasi pembelian investasi sebagai :
I = Ī – bi     ; b > 0 ………………………………...…………..(1.11)
Dimana :          I = investasi
Ī = autonomous investment spending
b = responsiveness of investment spending to interest rate
i = interest rate
Dari gambar berikut ini dapat dilihat bahwa kurva investasi memiliki kemiringan negatif untuk merefleksikan asumsi penurunan tingkat suku bunga akan menyebabkan peningkatan profitabilitas untuk penambahan modal  dan akan membawa kepada peningkatan investasi. Posisi dari kurva investasi diatas, sangat dipengaruhi oleh slope dari kurva tersebut atau koefisien b dalam persamaan (1.11).

Gambar 1.2 The Investment schedule


          




Jika investasi sangat responsif terhadap tingkat suku bunga, penurunan kecil pada tingkat suku bunga akan membawa peningkatan yang besar pada investasi. Perubahan pada koefisien Ī akan menggeser kurva rencana investasi. Jika Ī meningkat berarti pada setiap tingkatan tingkat suku bunga, perusahaan berusaha untuk berinvestasi pada tingkat yang lebih tinggi dan akan menggeser kurva investasi ke kanan.

1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dibatasi dengan menganalisis  data sekunder kuantitatif tahunan  pada rentang waktu antara tahun 1984-2003 dengan pertimbangan ketersediaan data. Data sekunder digunakan karena penelitian yang dilakukan meliputi objek yang bersifat makro dan mudah didapat. Data tersebut diolah kembali oleh penulis sesuai dengan kebutuhan model yang digunakan. Sumber data berasal dari berbagai sumber seperti misalnya Badan Pusat Statistik, Laporan triwulanan/tahunan BI, Badan Koordinasi Penanaman Modal, International Financial Statistics (IFS), Asian Development Bank, World Development Indicators dan lain-lain. Penulis menguji  variabel-variabel bebas utama yang memiliki pengaruh kuat terhadap tabungan nasional dan investasi swasta sebagai variabel tidak bebas yang berhubungan dengan model yang digunakan.
Disamping itu penulis melakukan studi literatur untuk mendapatkan  teori yang mendukung penelitian. referensi studi kepustakaan diperoleh melalui jurnal, Perpustakaan FE UNPAD, Perpustakaan Pusat UNPAD, dan Perpustakaan Bank Indonesia Bandung dan Jakarta.

1.6.2 Operasionalisasi Variabel
Variabel tak bebas dalam penelitian ini adalah tabungan nasional dan investasi swasta. Sedangkan gross national disposable income (GNDI), tingkat suku bunga (r), tingkat inflasi (lnp), pendapatan riil / Produk Domestik Bruto (Y), dan rasio investasi pemerintah terhadap GDP (GIY) serta dummy variable merupakan variabel-variabel bebasnya.
Berikut adalah penjelasan variabel-variabel bebasnya :
1.      Gross National Disposable Income (gndi)
Adalah pendapatan yang dapat digunakan untuk konsumsi barang dan jasa. Variabel ini diharapkan akan berhubungan positif dengan tabungan nasional. Pendapatan disposibel dapat dirumuskan sebagai :
Yd = Y – T ……………………………………………………(1.12)
Dimana :          Yd = pendapatan disposibel
                        Y = pendapatan nasional
                        T = pajak

2.      Tingkat suku bunga riil (r)
Merupakan tingkat bunga nominal yang telah dikoreksi terhadap inflasi, dapat dirumuskan sebagai :
Real interest rate = nominal interest rate – inflation ………………………….(1.13)
3.      Tingkat inflasi (lnp)
Data inflasi menggunakan indikator Indeks Harga Konsumen tahunan tahun konstan 2000. Inflasi tahunan dirumuskan dengan :
Tingkat inflasi = IHKt – IHKt-1 X 100 …………………...…….(1.14 IHK t-1
4.      Pendapatan riil (y)

Data pendapatan riil tahunan menggunakan data pendapatan nominal tahunan dibagi dengan PDB deflator tahun konstan 2000 dengan perumusan:
PDB Riil = PDB Nominalt  X 100  …………..………………..………(1.15)
                               PDB Deflatort
5.      Rasio investasi pemerintah terhadap PDB (giy)
Merupakan prosentase perbandingan pengeluaran pemerintah dalam investasi (public investment) terhadap Produk Domestik Bruto.
6.      Dummy variable
Dummy variable adalah metode pengklasifikasian data yang membagi sebuah sampel menjadi beberapa subgrup berdasarkan kualitas atau atribut (jenis kelamin, status perkawinan, dan lain-lain). Dalam penelitian ini dummy variables digunakan sebagai variabel krisis ekonomi dengan nilai D = 0 untuk periode sebelum krisis ekonomi Indonesia dan D = 1 untuk periode setelah krisis ekonomi. Berdasarkan identifikasi di atas maka mulai periode 1998-2003 dummy variable bernilai 1 dikarenakan adanya krisis ekonomi.

1.6.3 Metode Analisis
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif, yang akan dijelaskan sebagai berikut :
-       Kualitatif dilakukan dengan menggunakan  beberapa instrumen analisis seperti tabel  dan grafik yang dapat mencerminkan uraian analisis penelitian secara teratur dan saling mendukung. Data dari buku teks, jurnal,  dan hasil penelitian yang sudah ada dan berkaitan dengan skripsi ini dijadikan dasar bagi analisis deskriptif.
-       Kuantitatif, dilakukan dengan menggunakan model ekonometrika untuk   mencerminkan hasil dari pembahasan yang dinyatakan dalam angka.
Model  yang digunakan dalam analisis ini adalah model ekonometrik dengan  pendekatan kointegrasi dan model dinamis faktor-faktor utama yang mempengaruhi tabungan nasional dan investasi swasta  dengan pendekatan ECM (Error-Correction Model) menggunakan  bantuan program Microsoft Excel dan Eviews 3.0. Data yang digunakan adalah data periode tahunan (time series) dengan estimasi model menggunakan Ordinary Least Square (OLS).
Adapun persamaan model kointegrasi sebagai berikut:
Yt = α0 + α1 X1 + α2 X2  +............+ αn Xn + Ut …………….…………(1.16)
dimana:
Yt           = Variabel tidak bebas
X1,2,..,n    = Variabel bebas
Ut         =  Error term
Sedangkan  persamaan ECM (Error-Correction Model) adalah sebagai berikut:
rYt = α0 + α1rX1+ α 2rX2+ ……. + α nrXn + ECTt-1+Ut  …….….(1.17)
dimana:
rYt                 =   First difference dari variabel tidak bebas
rX1,2,..,n               =  First difference dari variabel bebas
 ECTt-1             =    Error Correction Term
            Spesifikasi model dalam penelitian ini merupakan spesifikasi model yang dibuat oleh Ipumbu W. Shiimi dan Gerson Kadhikwa[11] yang meneliti mengenai tabungan dan investasi swasta di Namibia pada periode 1980-1996 dengan menambahkan dummy variable karena krisis ekonomi tahun 1997. Model tabungan yang akan diestimasi dalam penelitian ini adalah :
 Ln S = α + β1 LnGNDIt + β2 LnRt + β3 LnPt + β4 Dummy + μt…….…….. (1.18)
Sedangkan model untuk investasi swasta adalah:
Ln I = α + γ1 LnYt + γ2  LnPt + γ3 LnRt + γ4 LnGIYt + γ5 Dummy + νt ….....(1.19)
Teori tentang kointegrasi ditandai dengan memasukkan error-correction (EC) term . EC term lagged periode (ECt-1) menggabungkan pergerakan short-run dan long-run pada fungsi tabungan nasional dan investasi swasta.
Sehingga model persamaan yang kita butuhkan secara spesifik menjadi general error correction model (ECM) :

    Fungsi tabungan

ΔLn S =α + β1 ΔLnGNDIt + β2 ΔLnRt + β3 ΔLnPt + β4 ECTt-1  + β5 D + μt ………………….………………………………………………………….….(1.20)
Keterangan :
α                    = konstanta
ΔLn S            = First Difference dari logaritma tabungan nasional
ΔLnGNDI     = First Difference dari logaritma Gross National Disposable Income
ΔLnR             = First Difference dari tingkat suku bunga
ΔLnP             = First Difference dari tingkat inflasi                     
                      = Error-correction term lagged one period
D = dummy variable,     D = 0, untuk periode sebelum krisis ekonomi (1984-1997)
                                    D = 1, untuk periode setelah krisis ekonomi (1998-2003)
β1, β2, β3, β4       = koefisien regresi
μ                     = error term
t menunjukan waktu
2.      Fungsi investasi swasta
ΔLn I = α+ γ1 ΔLnYt + γ2  ΔLnPt + γ3 ΔLnRt + γ4 ΔLnGIYt + γ5 ECTt-1 +γ6 D+ νt    ………………………………………………………..……………………….(1.21)
Keterangan :
ΔLn I               = First Difference dari logaritma investasi     
ΔLnY               = First Difference dari logaritma pendapatan nasional
ΔLnP               = First Difference dari tingkat inflasi                   
ΔLnR               = First Difference dari tingkat suku bunga
ΔLnGIY          = First Difference dari logaritma rasio investasi pemerintah   terhadap PDB
ΔECTt-1               = Error-correction term lagged one period
D = dummy variable,     D = 0, untuk periode sebelum krisis ekonomi (1984-1997)
                                    D = 1, untuk periode setelah krisis ekonomi (1998-2003)
γ1,  γ2 ,γ3,  γ4, γ5  = koefisien regresi
ν                     = error term
t menunjukan waktu
1.6.4 Pengujian Statistik
1.6.4.1 Uji Akar Unit (Unit Root Test)                  
            Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui adanya anggapan stasioneritas pada persamaan yang sedang diestimasi. Untuk diketahui adanya unit roots dilakukan pengujian Dickey-Fuller (DF-test) sebagai berikut :
Misal variabel Yt sebagai variabel tidak bebas, maka akan diubah menjadi
Yt = ρ Yt-1 + Ut    ..................................................................................(1.22)
Jika koefisien Yt-1  (ρ) adalah = 1 dalam arti hipotesis diterima, maka variabel mengandung unit root dan bersifat non-stasioner. Untuk mengubah trend yang bersifat non-stasioner menjadi stasioner dilakukan uji orde pertama (first difference)
ΔYt  = (ρ-1) (Yt - Yt-1 .........................................................................(1.23)
Koefisien ρ akan bernilai 0, dan hipotesis akan ditolak sehingga model menjadi stasioner.
Kesimpulan hipotesis DF-test :
·         Ho : ρ = 0       (Terdapat unit roots, variabel Y tidak stasioner)
·         H1 : ρ ≠ 0       (Tidak terdapat unit roots, variabel Y stasioner)
Kesimpulan  hasil root test diperoleh dengan membandingkan nilai t-hitung dengan t-tabel pada tabel Dickey-Fuller.

1.6.4.2 Uji Kointegrasi
            Uji kointegrasi bertujuan untuk mengetahui bagaimana variabel-variabel independen mempengaruhi variabel dependennya pada jangka panjang. Yang dimaksud jangka panjang dalam pendekatan kointegrasi adalah  jangka waktu dimana pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel dependennya tidak bersifat seketika, melainkan membutuhkan selang waktu, dan merupakan suatu kondisi dimana masing-masing variabel memungkinkan untuk mengadakan penyesuaian secara penuh terhadap perubahan-perubahan yang timbul (atau tidak ada kecenderungan untuk naik atau turun, dan variabel tersebut berada dalam kondisi optimumnya).                           
            Model kointegrasi juga merupakan  model yang biasa digunakan untuk menganalisis apakah trend dari nilai variabel tak bebas bergerak dengan arah yang sama dengan trend variabel bebasnya, sehingga tecapai keseimbangan jangka panjang atau justru sebaliknya. Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam uji ini :                                                       
1.      Estimasi tiap parameter dari persamaan regresi dengan menggunakan Ordinary Least Square (OLS), misalnya :
Yt = α0 + α1Xt1 + α2Xt2 + Ut ..........................................................................(1.24)
Uji stasioner terhadap nilai residual dari hasil estimasi diatas lalu estimasi kembali
Ut = Ut-1 + υt   ...................................................................................................(1.25)
ΔÛt = α0Ut-1 + α1Ut-2   ......................................................................................(1.26)
Setelah t-hitung diperoleh, maka hasilnya dibandingkan dengan t-tabel (uji-t). Jika nilai t hitung lebih besar dari t-tabel maka variabel bersifat stasioner.
2.      Regresi persamaan, proses ini dilakukan untuk melihat signifikansi hubungan antara variabel pada tingkat kepercayaan tertentu.
Hipotesis ini didasarkan oleh hasil regresi pada error term berikut ini :
Ut = ρUt-1 + υt .........................................................................(1.27)
            Kesimpulan hipotesis uji kointegrasi :
·         Ho : ρ = 0       (Variabel-variabel tidak terkointegrasi)
·         H1 : ρ ≠ 0       (Variabel-variabel terkointegrasi)

1.6.4.3 Penaksiran Koefisien Determinasi
            Uji ini digunakan untuk mengukur kedekatan hubungan dari model yang dipakai. Koefisien determinasi (R2) yaitu angka yang menunjukan besarnya kemampuan varians atau penyebaran dari variabel-variabel bebas yang menerangkan variabel tidak bebas atau angka yang menunjukan seberapa besar variabel tidak bebas dipengaruhi oleh variabel-variabel bebasnya.
Besarnya nilai koefisien determinasi adalah antara 0 hingga 1 (02
<1 1="1" a="a" antara="antara" baik="baik" bebas="bebas" bebasnya.="bebasnya." dekat="dekat" dengan="dengan" dikatakan="dikatakan" dimana="dimana" hubungan="hubungan" karena="karena" koefisien="koefisien" maka="maka" mendekati="mendekati" model="model" name="_Toc40543579" nilai="nilai" semakin="semakin" tersebut="tersebut" tidak="tidak" variabel="variabel">

1.6.4.4 Uji t – Statistik (Uji Parsial)
Penaksiran ini dilakukan untuk mengetahui tingkat signifikansi variabel-variabel independen terhadap variabel dependen (dalam hal ini untuk mendukung  uji kointegrasi dan ECM) secara parsial. Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengujian dua arah dan satu arah, dengan menguji dua arah dalam tingkat signifikani = α , dan derajat kebebasan (degree of freedom, df) = n-k, dimana n menunjukan jumlah observasi dan k menunjukan jumlah parameter termasuk konstanta.

Tabel 1.1 Kesimpulan Pengujian t- Statistik
Tipe Hipotesis
   
Ho : Hipotesis Nol
   
H1 : Hipotesis    Alternatif
   
Kriteria
Satu arah (kanan)
   
α ≤ 0
   
α  >
   
t-Stat > t- Tabel
Satu arah (kiri)
   
α ≥ 0
   
α  <
   
t-Stat < t- Tabel
Dua Arah
   
α = 0
   
α  ≠ 0
   
-t-Stat < t- Tabel< t-Stat

1.6.4.5 Uji F- Statistik
            Pengujian ini digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh dari semua variabel bebas secara keseluruhan terhadap variabel tidak bebasnya. Disamping menguji berarti tidaknya variabel-variabel bebas secara bersamaan, uji F juga sekaligus menguji koefisien determinasinya (R2). Dengan demikian hasil uji F yang signifikan akan menyebabkan nilai R2 yang diperoleh secara statistik tidak sama dengan nol.
Hipotesa yang digunakan adalah :
·            Ho : b1 =0; b2 =0; bi = 0
·            H1 : b1 =0; b2 =0; bi ¹ 0     dengan i = 1,2,..,n.
Hasil pengujian akan menunjukan :
Apabila nilai F-hitung > F- tabel, maka Ho ditolak ; artinya setiap  variabel bebas secara bersama-sama  berpengaruh terhadap variabel tidak bebasnya.
Apabila nilai F-hitung < F- tabel, maka Ho tidak diterima ; artinya setidaknya satu dari variabel bebas berpengaruh terhadap variabel tidak bebasnya.
Degree of freedomnya :
§  Df untuk pembilang, N1 = k – 1, k adalah banyaknya parameter.
§  Df untuk penyebut, N2 = n – k , n adalah banyaknya observasi.
1.6.4.6 Pengujian Masalah dalam Regresi Linear
§  Masalah Multikolinier
Multikolinier menunjukan gejala adanya hubungan linier atau hubungan  yang pasti diantara explanatory variable (variabel penjelas) dalam model regresi. Gejala ditunjukan oleh beberapa faktor, namun yang paling mendukung penjelasan adanya multikolinier dalam model yaitu apabila nilai R2 dari hasil regresi sangat tinggi namun sebagian besar eksplanatori variabel tidak menjelaskan hubungan yang signifikan terhadap variabel yang dijelaskan, melalui perbandingan antara nilai t-stat dan F-stat dengan t-tabel dan F-tabel.
§  Masalah Serial Korelasi
            Masalah korelasi dalam model menunjukan adanya hubungan korelasi antara variabel gangguan (error term) dalam suatu model yang terjadi karena beberapa faktor :
1.      Inersia, data observasi dimulai dari situasi kelesuan ekonomi sehingga data time series selanjutnya dipengaruhi oleh data sebelumnya walaupun perekonomian sudah membaik.
2.      Mengeluarkan atau tidak memasukan variabel bebas tertentu yang sebenarnya turut mempengaruhi variabel tidak bebasnya menurut teori ekonomi, walaupun hasil perhitungan kuantitas tidak mendukungnya.
3.      Bentuk model yang tidak tepat.
4.      Penentuan data secara sistematis tidak tersedia untuk periode yang diharapkan. Uji yang dilakukan untuk mendeteksi gejala ini adalah uji Durbin-Watson dan Run-test.

Uji serial korelasi:
1.    Durbin Watson
Ketentuan yang berlaku untuk melihat apakah suatu model mempunyai masalah korelasi berdasarkan pada bagan daerah kritis di halaman berikut ini.
Gambar 1.3 Pengujian Durbin Watson Model Regresi

       Serial             Daerah               Daerah tidak ada              Daerah              S erial
       Korelasi        tak tentu                serial korelasi                tak tentu           Korelasi
        Positif                                                                                                      Negatif
                
Keterangan :       Ho       :   tidak ada auto korelasi positif
                                    Ho*        :    tidak ada auto korelasi negatif
Tabel 1.2 Batas Kritis Pengujian Durbin – Watson statistik
Daerah
   
Hasil
0 < D-W Stat < dL
dL < D-W Stat < dU
dU < D-W Stat < 4-dU
4-dU < D-W Stat < 4-dL
4-dL < D-W Stat < 4
   
Terdapat Autokorelasi positif
Ragu – ragu
Tidak terdapat Autokorelasi
Ragu – ragu
Terdapat Autokorelasi negatif

2.   Run-Test
Uji ini dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya masalah serial korelasi dalam model, dengan melakukan perhitungan terhadap pergerakan (positif atau negarif) residual yang diperoleh dari selisih antara nilai aktual dari variabel dependen terhadap nilai estimasinya.
Setelah diperoleh data residual, maka ditentukan jumlah nilai residual yang positif (n1), nilai residual negatif (n2), jumlah runs atau perubahan nilai positif dan negatif residual (k) dan jumlah observasinya (n). Lalu ditentukan pula nilai rata-rata runs Е (k) dan variansnya (δk) melalui rumus :
 ...........................................................................................(1.28)
 ........................................................................(1.29)
........................................................................(1.30)
            Penentuan ada atau tidaknya korelasi dalam model, ditentukan melalui batasan rentang :
Е (k) – t-tabel ( n,-1; α) S(k) ≤ k ≤ Е (k) + t-tabel ( n,-1; α) S(k)
Pada tingkat kepercayaan tertentu akan dilihat apakah (k) berada dalam rentang batas interval tersebut diatas yang menunjukan bahwa model tidak mengandung masalah serial korelasi, atau sebaliknya yang menunjukan bahwa model mengandung masalah serial korelasi.
            Perlu dicatat bahwa apabila model mengandung masalah serial korelasi, maka model harus diperbaiki melalui perbaikan regresi, karena apabila terjadi korelasi diantara anggota series dari observasi maka asumsi classical linear regresion tidak terpenuhi. Keseluruhan uji ekonometrik menggunakan  Eviews sofware (Eviews 3.0) .

[1] Sadono Sukirno. 1985. Ekonomi Pembangunan, Jakarta, hlm. 234.
[2] M.L. Jhingan. 1992. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, hlm. 614.
[3] M.N. Salam. 1995. Analisis Investasi Jepang di Indonesia, Buletin Litbang Perdagangan, Departemen Perdagangan,.
[4] N. Gregory Mankiw, Principles of Economics, New York : Mcgraw-Hill.
[5] Michael J. Parkin.1996. Macroeconomics, Addison- Wesley Publishing Company.
[6]Alfred Marshall. 1895. Principles of Economics, New York : Macmillan.
[7] Perubahan pada tabungan individu untuk setiap perubahan pada pendapatan disposibel individu
[8] Rudiger Dornbusch, Stanley Fischer, and Richard Startz, Macroeconomics 7th edition, New York : Mcgraw-Hill.
[9] Robert J. Gordon. Macroeconomics 6th edition, HarperCollins College Publishers.
[10] Total rencana pembelian perusahaan untuk modal fisik baru.
[11] Ipumbu W. Shiimi dan Gerson Kadhikwa. 1999. Saving and Investment in Namibia, BON Occasional Paper No.2.

Selengkapnya Silahkan Berkunjung di sini
       
Print Friendly and PDF
You might also like:

    CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN SDM - PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN MANAJER TERHADAP KEPUASAN PEKERJA DI CV. JABAR KARYA UTAMA UNTUK PEKERJAAN OPTIMALISASI MESJID DI DINAS TATA RUANG DAN PERMUKIMAN PROPINSI JAWA BARAT
    CONTOH SKRIPSI AKUNTANSI : PEMERIKSAAN PENGENDALIAN INTERN PERSEDIAAN PADA PT. VEDEM PUTRA SAKTI
    CONTOH SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
    Contoh Skripsi Ekonomi Syariah : Analisis Pinjaman Konsumtif Riil pada Bank Syariah di Indonesia Periode 1998 – 2003
    CONTOH SKRIPSI TEKHNIK MESIN JUDUL : ANALISA PENGARUH WAKTU TAHAN TERHADAP BAJA KARBON RENDAH DENGAN METODE PACK CARBURIZING

 
Atas